POLA JABAR - Selama puluhan tahun, susu sapi telah dianggap sebagai pilar utama dalam pola makan masyarakat Barat. Kampanye kesehatan seringkali memposisikan segelas susu sebagai cara instan untuk mendapatkan tulang yang kuat dan tubuh yang sehat.
Namun, menurut penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health mengajak kita untuk melihat lebih dalam: apakah susu memang merupakan keharusan biologis, atau sekadar pilihan nutrisi?
Dilema Kalsium dan Kesehatan Tulang
Salah satu argumen terkuat penggunaan susu dalam diet Barat adalah kandungan kalsiumnya yang tinggi. Secara tradisional, konsumsi susu yang tinggi disarankan untuk mencegah osteoporosis dan patah tulang.
Namun, studi jangka panjang dari Harvard menunjukkan hasil yang mengejutkan. Data menunjukkan bahwa negara-negara dengan konsumsi susu tertinggi justru memiliki tingkat patah tulang pinggul yang cenderung lebih tinggi dibandingkan negara yang mengkonsumsi sedikit susu.
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya bergantung pada asupan kalsium dari susu, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti Vitamin D, aktivitas fisik, dan asupan protein.
Lemak Jenuh dan Risiko Penyakit Jantung
Pola makan Barat sering kali menyertakan produk susu tinggi lemak (full-cream), seperti keju dan mentega. Harvard Health menekankan pentingnya memperhatikan kandungan lemak jenuh dalam produk-produk ini.
Risiko Kardiovaskular: Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), yang merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.