POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak kesegaran semangka di siang hari yang terik? Buah yang kaya akan air ini selalu menjadi primadona untuk menghidrasi tubuh. Namun, bagi mereka yang sedang menjaga kadar gula darah atau menjalankan diet ketat, semangka sering kali masuk dalam daftar "hitam" karena dianggap memiliki indeks glikemik (IG) yang tinggi.
Benarkah demikian? Mengacu pada data dari Harvard Health Publishing, mari kita bedah secara mendalam mengapa angka indeks glikemik semangka sering kali menipu dan bagaimana cara menyikapinya dengan bijak.
Secara teknis, semangka memang memiliki skor Indeks Glikemik (IG) yang cukup tinggi, yaitu sekitar 72 hingga 80. Dalam skala IG, angka di atas 70 dikategorikan sebagai "tinggi". Artinya, karbohidrat dalam semangka dapat dipecah menjadi glukosa dengan cukup cepat saat masuk ke dalam aliran darah.
Namun, menghentikan pembicaraan hanya pada angka IG adalah sebuah kesalahan besar dalam nutrisi. Para ahli dari Harvard menekankan pentingnya memahami konsep Beban Glikemik (Glycemic Load).
Beban Glikemik atau Glycemic Load (GL) memberikan gambaran yang lebih nyata karena memperhitungkan berapa banyak karbohidrat yang sebenarnya ada dalam satu porsi makanan.
Meski angka IG semangka tinggi, kandungan airnya sangat melimpah (sekitar 92%) dan jumlah karbohidrat per porsinya sangat sedikit. Satu porsi semangka (sekitar 120 gram) hanya memiliki nilai Beban Glikemik sekitar 5. Angka ini masuk dalam kategori rendah (skala di bawah 10 dianggap rendah).
Jadi, meskipun gula dalam semangka cepat diserap, jumlah total gula yang masuk ke tubuh dalam satu porsi standar sebenarnya sangat kecil sehingga tidak akan menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis pada individu sehat.
Kandungan Nutrisi yang Tersembunyi di Balik Rasa Manis
Selain urusan gula darah, semangka adalah gudang nutrisi yang seringkali terlupakan: