POLA JABAR - Siapa yang tidak kenal dengan almond? Mulai dari susu nabati, camilan diet, hingga taburan kue premium, almond telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehat modern. Namun, di balik popularitasnya yang mendunia, banyak orang salah mengira bahwa tanaman ini asli dari California, Amerika Serikat daerah yang saat ini menjadi produsen terbesarnya.
Berdasarkan laporan mendalam dari National Geographic, sejarah tanaman almond jauh lebih tua dan lebih kompleks daripada perkebunan luas yang kita lihat saat ini. Tanaman ini memiliki silsilah yang membentang ribuan kilometer hingga ke jantung Asia.
Jauh sebelum menjadi komoditas global, nenek moyang tanaman almond (Prunus dulcis) tumbuh liar di wilayah Asia Tengah, terutama di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Iran, Afghanistan, dan sebagian Turki. Di sana, pohon almond tumbuh di lereng-lereng gunung yang kering dan berbatu.
Menariknya, almond liar pada masa itu sangat berbeda dengan yang kita konsumsi sekarang. Almond liar mengandung senyawa amygdalin, yang jika dikunyah akan berubah menjadi sianida yang mematikan. Evolusi dan domestikasi oleh manusia purbalah yang akhirnya melahirkan varietas almond manis yang aman untuk dimakan.
Bagaimana tanaman dari Asia Tengah ini bisa sampai ke Eropa dan Amerika? Kuncinya ada pada jalur perdagangan kuno. Para pedagang di Jalur Sutra membawa almond sebagai bekal perjalanan karena daya tahannya yang luar biasa dan kandungan energinya yang padat.
Sepanjang rute perdagangan ini, biji almond terjatuh atau sengaja ditanam, hingga akhirnya mencapai wilayah Mediterania. Iklim Mediterania yang hangat, kering, namun memiliki akses air yang cukup, ternyata menjadi rumah kedua yang sempurna bagi pohon ini. Di sinilah bangsa Yunani dan Romawi kuno mulai membudidayakan almond secara besar-besaran, hingga menjadikannya simbol kesuburan dan keberuntungan.
Meskipun berasal dari Asia Tengah dan besar di Mediterania, "ledakan" produksi almond baru terjadi setelah tanaman ini dibawa ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Para misionaris Spanyol membawa bibit almond ke California, namun baru pada abad ke-20 para petani di Central Valley menemukan formula tepat untuk budidaya massal.
Saat ini, California memproduksi sekitar 80 persen pasokan almond dunia. Keberhasilan ini didukung oleh sistem irigasi canggih dan penelitian genetika yang memastikan pohon-pohon tersebut produktif meski di tengah tantangan perubahan iklim.
National Geographic mencatat bahwa daya tarik almond tidak hanya pada rasanya, tetapi pada ketangguhannya. Pohon almond adalah salah satu tanaman pertama yang berbunga di akhir musim dingin, menandakan kembalinya kehidupan.