POLA JABAR – Secara alami, Bumi memiliki sistem manajemen air yang sempurna yang disebut siklus hidrologi. Air turun dari langit sebagai hujan, meresap ke dalam tanah, mengalir ke sungai, hingga akhirnya kembali ke laut untuk diuapkan kembali.
Namun, mengapa siklus yang tampak harmonis ini sering kali berubah menjadi bencana banjir begitu menyentuh kawasan perkotaan?
Fenomena ini bukan sekadar masalah "air yang terlalu banyak," melainkan adanya gangguan serius pada jalur yang seharusnya dilalui air dalam siklus tersebut.
Memahami Siklus Hidrologi yang Terganggu
Dalam kondisi alami seperti di hutan atau area terbuka tanah berfungsi sebagai spons raksasa. Saat hujan turun, sebagian besar air akan mengalami infiltrasi atau masuk ke dalam pori-pori tanah.
Proses ini tidak hanya mencegah banjir, tetapi juga mengisi cadangan air tanah yang kita gunakan sehari-hari.
Namun, di area perkotaan, siklus ini mengalami hambatan besar. Permukaan tanah yang dulunya mampu menyerap air kini telah berganti menjadi lapisan kedap air seperti aspal dan beton.
Akibatnya, air tidak bisa meresap ke bawah dan terpaksa bertahan di permukaan sebagai aliran permukaan (run-off).