POLA JABAR – Di tengah gempuran tren ramalan zodiak atau shio, masyarakat Jawa masih sangat memegang teguh konsep weton.
Namun, weton sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar tanggal lahir. Ia merupakan perpaduan antara perhitungan matematis dan filosofi spiritual yang sudah diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
Sejarah Singkat Perpaduan Budaya
Sistem weton merupakan hasil akulturasi budaya yang sangat indah. Penanggalan Jawa yang kita kenal sekarang diciptakan oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1633 Masehi.
Beliau memadukan kalender Saka (Hindu) dengan kalender Hijriah (Islam), serta tetap mempertahankan unsur asli Jawa yaitu Pancawara (siklus lima hari pasaran).
Filosofi "Sangkan Paraning Dumadi"
Secara etimologi, weton berasal dari kata metu yang berarti keluar atau lahir. Namun secara filosofis, weton berkaitan erat dengan konsep Sangkan Paraning Dumadi yaitu pemahaman tentang dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali.
- Harmoni Semesta: Orang Jawa percaya bahwa saat manusia lahir, alam semesta sedang berada dalam posisi atau energi tertentu. Weton adalah "stempel" energi alam tersebut pada diri seseorang.
- Mikrokosmos dan Makrokosmos: Weton adalah upaya manusia (mikrokosmos) untuk menyelaraskan diri dengan alam semesta (makrokosmos). Jika manusia bergerak selaras dengan energinya, maka hidupnya dipercaya akan lebih minim hambatan.