POLA JABAR - Bagi banyak orang, es krim adalah makanan penutup yang sulit ditolak. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan gaya hidup vegan, pilihan di rak supermarket kini tidak lagi hanya terbatas pada es krim berbasis susu sapi (dairy).
Munculnya es krim non-dairy atau nabati memberikan alternatif baru yang menarik. Meski keduanya menawarkan sensasi dingin dan manis, ada perbedaan mendasar dari segi bahan, nutrisi, hingga dampaknya bagi tubuh.
Apa Itu Es Krim Dairy dan Non-Dairy?
Es krim dairy secara tradisional dibuat dari susu sapi dan krim. Tekstur lembutnya berasal dari kandungan lemak hewani dan protein susu (kasein dan whey).
Di sisi lain, es krim non-dairy sama sekali tidak mengandung produk hewani. Sebagai gantinya, produsen menggunakan susu nabati seperti santan, susu almond, susu kedelai, hingga susu kacang mete sebagai bahan dasarnya.
Perbandingan Nutrisi dan Kalori
Secara umum, orang sering menganggap bahwa label "non-dairy" secara otomatis berarti lebih rendah kalori atau lebih sehat. Namun, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Es krim dairy kaya akan kalsium dan protein, tetapi juga tinggi lemak jenuh serta kolesterol. Sementara itu, es krim nabati biasanya bebas kolesterol dan sering kali mengandung lemak tak jenuh yang lebih baik untuk jantung, terutama jika bahan dasarnya adalah kacang-kacangan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa es krim non-dairy berbasis santan (coconut milk) bisa memiliki kandungan lemak jenuh yang setara atau bahkan lebih tinggi daripada es krim susu sapi. Selain itu, untuk mencapai tekstur yang mirip dengan es krim asli, produk non-dairy sering kali mendapatkan tambahan gula atau pengental (seperti gum guar atau karagenan).