POLA JABAR - Kacang mede merupakan salah satu jenis kudapan yang sangat populer di Indonesia, terutama saat momen hari raya. Teksturnya yang renyah dengan rasa gurih yang khas membuat kacang ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan jenis kacang lainnya. Namun, tahukah Anda bahwa secara botani, kacang mede sebenarnya bukanlah keluarga kacang-kacangan sejati?
Berdasarkan literatur dari Encyclopaedia Britannica, berikut adalah ulasan mendalam mengenai apa itu kacang mede, asal-usulnya, hingga karakteristik unik yang dimilikinya.
Karakteristik Botani Kacang Mede
Kacang mede adalah biji dari pohon mede (Anacardium occidentale). Pohon ini merupakan tanaman tropis yang hijau sepanjang tahun (evergreen). Uniknya, apa yang kita sebut sebagai "kacang" sebenarnya adalah benih yang tumbuh di luar buah aslinya.
Dalam dunia botani, tanaman ini menghasilkan "buah semu" yang berbentuk seperti lonceng atau pir, yang sering disebut sebagai jambu monyet atau jambu mede. Biji mede yang kita konsumsi menggantung di bagian bawah buah semu tersebut di dalam cangkang keras yang berbentuk seperti ginjal.
Cangkang luar kacang mede mengandung resin fenolik yang bersifat korosif dan beracun jika terkena kulit. Itulah sebabnya, kacang mede tidak pernah dijual dalam keadaan masih di dalam cangkang mentah seperti kacang tanah atau almond; mereka harus melalui proses pemanasan dan pengupasan yang teliti sebelum aman dikonsumsi.
Asal-Usul dan Sejarah Penyebaran
Merujuk pada sumber sejarah, pohon mede berasal dari wilayah timur laut Brasil. Tanaman ini tumbuh liar di daerah pesisir sebelum akhirnya ditemukan oleh para penjelajah.
Pada abad ke-16, bangsa Portugis membawa bibit pohon mede dari Brasil ke Goa, India. Awalnya, tujuan penanaman ini bukanlah untuk diambil bijinya, melainkan untuk mengendalikan erosi tanah karena sistem perakaran pohon mede yang sangat kuat dan mampu mencengkeram tanah dengan baik.