POLA JABAR - Bagi sebagian besar masyarakat, susu adalah menu wajib dalam sarapan harian. Namun, di balik kemasannya yang rapi, ada proses panjang yang menentukan apakah susu tersebut layak konsumsi atau justru berisiko bagi kesehatan. Salah satu standar emas yang diakui secara global adalah proses pasteurisasi.
Berdasarkan laporan resmi dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, pasteurisasi bukan sekadar anjuran, melainkan benteng pertahanan utama melawan wabah penyakit yang ditularkan melalui makanan.
Apa Itu Pasteurisasi? Lebih dari Sekadar Pemanasan
Banyak yang salah kaprah dan menganggap pasteurisasi sama dengan merebus susu hingga mendidih dalam waktu lama. Secara teknis, pasteurisasi adalah proses pemanasan setiap tetes susu pada suhu tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
FDA menjelaskan bahwa proses ini dirancang untuk membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit) yang mematikan, seperti Salmonella, E. coli, Listeria, hingga Campylobacter. Tanpa proses ini, susu mentah berisiko tinggi mengandung mikroba yang berasal dari lingkungan kandang, kotoran hewan, atau infeksi pada sapi itu sendiri.
Mitos Nutrisi: Apakah Pasteurisasi Merusak Kualitas Susu?
Salah satu perdebatan yang sering muncul di media sosial adalah klaim bahwa pasteurisasi menghilangkan nilai gizi alami susu. Namun, FDA memberikan klarifikasi tegas berdasarkan penelitian ilmiah selama puluhan tahun.
Proses pasteurisasi memang sedikit mengubah struktur beberapa protein sensitif panas, namun tidak secara signifikan mengubah konsentrasi nutrisi utama seperti kalsium, fosfor, dan protein. Vitamin utama dalam susu seperti Vitamin A dan D juga tetap stabil. Sebaliknya, risiko kesehatan yang timbul akibat mengkonsumsi susu mentah jauh lebih besar dibandingkan kehilangan mikronutrisi yang sangat kecil tersebut.
Ancaman Nyata di Balik Susu Mentah (Raw Milk)