POLA JABAR - Ketika berbicara tentang mie, pikiran banyak orang mungkin langsung tertuju pada Asia Timur, khususnya Tiongkok, Italia, atau Jepang. Namun, sejarah kuliner yang jauh lebih tua dan kaya juga mencatat eksistensi mie di wilayah Timur Tengah, di mana ia tidak hanya menjadi bahan makanan pokok tetapi juga simbol ketahanan resep kuno yang berhasil bertahan di tengah modernisasi.
Kehadiran mie di wilayah ini, yang sering disebut dengan nama seperti Rishata, Sha’ariyya, atau bentuk pasta lain seperti Laghman di jalur sutra, jauh mendahului banyak hidangan mie modern.
Bukti historis dan manuskrip masakan abad pertengahan menunjukkan bahwa hidangan berbasis tepung yang digiling dan dibentuk memanjang ini sudah menjadi bagian integral dari diet lokal, seringkali diolah dengan bumbu dan teknik yang sangat berbeda dari praktik di Barat maupun Timur Jauh.
Mie di Timur Tengah bukan sekadar pendamping hidangan utama; ia adalah kanvas untuk eksplorasi rasa rempah, kacang-kacangan, dan daging yang khas.
Resep mie khas Timur Tengah memiliki ciri khas yang membuatnya unik, terutama dalam hal bahan dasar dan cara penyajian. Umumnya, mie ini dibuat dari adonan sederhana berbahan dasar tepung gandum dan air, yang kemudian dipotong atau dibentuk dengan tangan menjadi helai tipis, lebar, atau bahkan berbentuk butiran kecil (orzo atau fregola ala Mediterania).
Proses pengeringan dan penyimpanan yang efisien di iklim kering wilayah tersebut memungkinkan mie menjadi bahan makanan yang tahan lama dan mudah diangkut, menjadikannya makanan ideal bagi para pedagang dan pengembara. Sebagai contoh, salah satu jenis mie yang populer adalah Sha’ariyya, mie tipis seperti bihun atau vermicelli yang sering digunakan dalam sup, pilaf nasi (rice pilaf), atau bahkan hidangan manis.
Dalam hidangan gurih, Sha’ariyya ditumis bersama mentega, kaldu, dan rempah seperti kunyit, kayu manis, atau kapulaga, menciptakan aroma yang mendalam dan rasa yang hangat, sangat berbeda dari bumbu mi instan yang mendominasi pasar saat ini.
Keberlangsungan resep-resep mie lama ini di zaman modern menjadi bukti betapa kuatnya akar budaya kuliner Timur Tengah. Dalam liputan mendalam oleh theguardian.com, dijelaskan bahwa di tengah gempuran makanan cepat saji dan pengaruh global, banyak keluarga masih mempraktikkan pembuatan mie secara tradisional.
Mie Rishata, misalnya, yang merupakan hidangan dari Libya, dibuat dari adonan yang digiling tipis, dipotong persegi, dan disajikan bersama kuah berbahan dasar tomat, kacang-kacangan, serta potongan daging domba atau ayam. Keunikan Rishata terletak pada tekstur mienya yang tebal namun lembut, menyerap semua sari kuah kental dengan sempurna.