POLA JABAR – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengingatkan potensi kenaikan harga yang bisa terjadi di Kota Bandung.

Meski inflasi Oktober 2025 tercatat 2,53% (year-on-year), lebih rendah dibanding Jawa Barat (2,63%) dan nasional (2,86%), Farhan menekankan kewaspadaan tetap diperlukan.

“Bandung adalah kota wisata dengan mobilitas tinggi saat Nataru. Ini peluang ekonomi sekaligus potensi tekanan harga. Kita harus pastikan semuanya nyaman – wisatawan, pedagang, dan warga,” ujar Farhan dalam siaran pers, Minggu 16 November 2025.

Farhan memaparkan empat langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga:

  1. Ketersediaan pangan terjamin – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) diminta menjaga stok bahan pokok dan memperkuat program Buruan SAE.
  2. Pengaturan distribusi dan pasar – Peningkatan tata kelola pasar, termasuk kebersihan dan alur distribusi, dianggap penting agar logistik pangan berjalan lancar.
  3. Gerakan pasar murah – Intervensi kecil tapi efektif untuk menahan gejolak harga.
  4. Komunikasi publik aktif – Dinas Kominfo diminta menyebarkan informasi ekonomi untuk menenangkan masyarakat.

Farhan menekankan pentingnya dialog dengan pelaku usaha, media, dan masyarakat serta peningkatan kualitas tenaga kerja sebagai upaya menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan merata.

Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung, Dudi Prayudi, menyebut ketergantungan Bandung pada pasokan pangan dari luar daerah membuat kota ini rentan terhadap fluktuasi harga.

Meskipun inflasi Oktober 2025 masih terkendali, antisipasi terhadap lonjakan permintaan tetap menjadi prioritas.

Kewaspadaan ini dibahas dalam High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bertajuk “Evaluasi Stabilitas Inflasi dan Indikator Makro Ekonomi Triwulan III 2025”, yang digelar di Hotel Mercure Bandung City Centre pada Rabu 12 November 2025.