POLA JABAR - Mie merupakan makanan sederhana namun revolusioner yang kini dinikmati di seluruh penjuru dunia, memiliki akar sejarah yang sangat mendalam dan tertuang dalam catatan peradaban Tiongkok kuno. 

Meskipun penemuan arkeologi modern menunjukkan adanya mie yang jauh lebih tua, catatan tertulis tertua mengenai makanan berbentuk untaian adonan ini secara konsisten merujuk pada periode Dinasti Han di Tiongkok. 

Dinasti Han, yang berjaya sekitar tahun 206 Sebelum Masehi (SM) hingga 220 Masehi, menjadi saksi bisu munculnya mie dalam budaya kuliner sehari-hari, membuktikan bahwa pada masa itulah teknologi dan popularitas mie mulai terukir dalam sejarah. 

Dokumentasi ini tidak hanya mengukuhkan Tiongkok sebagai salah satu pusat inovasi kuliner utama dunia, tetapi juga memberikan gambaran bagaimana mie bermula dari hidangan sederhana menjadi bagian integral dari tradisi dan ritual masyarakat.

Pada masa Dinasti Han, mie dikenal dengan istilah umum "mian", yang merujuk pada makanan yang terbuat dari tepung gandum. Salah satu bentuk yang paling populer dan tercatat adalah "tangbing" atau "mi kuah" sebuah sajian mie yang direbus dan disajikan dalam kuah, sangat berbeda dari konsep mie goreng yang populer di masa-masa selanjutnya. 

Konsumsi tangbing pada masa itu tidak hanya terbatas pada hidangan sehari-hari, namun juga memiliki peran penting dalam berbagai upacara dan perayaan istana, terutama pada acara menjelang musim panas. 

Ketersediaan catatan sejarah ini menyoroti bahwa pada periode ini, teknik dasar pembuatan adonan dengan mencampurkan tepung gandum dan air telah dikuasai dengan baik, menjadi fondasi bagi berbagai turunan produk olahan tepung lainnya, seperti roti dan pangsit, yang juga semakin berkembang pada era Dinasti Han.

Inovasi teknologi pada masa Dinasti Han turut berperan besar dalam memudahkan dan menyempurnakan proses pembuatan mie. Selain metode adonan yang dicampur dan diolah, dikenal pula beberapa teknik lain untuk membentuk adonan. 

Meskipun teknik "botuo" (mencampur adonan dengan daging dan dicetak) atau teknik "shuiyin" (menarik adonan menjadi untaian tipis, cikal bakal mie tarik) mungkin lebih berkembang dan populer di dinasti berikutnya seperti Dinasti Tang, akar pengembangan metode pengolahan tepung ini sudah dimulai sejak Han.