POLA JABAR - Kelinci albino adalah manifestasi visual dari sebuah kondisi genetik yang dikenal sebagai albinisme okulokutan, suatu kelainan pewarisan yang ditandai dengan kurangnya atau absennya produksi pigmen melanin pada kulit, rambut (bulu), dan mata. Kondisi ini bukan disebabkan oleh penyakit atau infeksi, melainkan murni oleh mutasi genetik yang diturunkan, dan pada kelinci, albinisme umumnya tergolong dalam jenis yang sangat bergantung pada kinerja enzim kunci.
Mutasi ini paling sering terjadi pada gen yang bertanggung jawab untuk sintesis melanin, yaitu pigmen alami yang menentukan warna kulit, bulu, dan iris. Kelinci albino secara khusus membawa dua salinan gen mutan yang bersifat resesif; ini berarti, seekor kelinci baru akan menunjukkan sifat albino jika mewarisi gen mutan dari kedua induknya, sebuah pola pewarisan yang juga diamati pada manusia dan mamalia lainnya, sebagaimana diteliti dan didokumentasikan dalam berbagai studi genetika seperti dilansir dari : ncbi.nlm.nih.gov.
Fokus utama dalam genetika kelinci albino terletak pada gen yang mengkode enzim tirosinase (TYR). Tirosinase adalah enzim yang berperan sangat penting sebagai katalis dalam tahap awal sintesis melanin, yaitu mengkatalisis hidroksilasi L-tirosin menjadi L-DOPA dan mengoksidasi L-DOPA menjadi DOPAkuinon. Jika gen TYR mengalami mutasi parah atau ketiadaan, maka enzim tirosinase tidak dapat berfungsi sama sekali atau hanya berfungsi sebagian kecil, menyebabkan terhentinya proses pembuatan melanin. Kelinci albino murni, sering disebut sebagai albinisme tipe 1A, menunjukkan ketiadaan total aktivitas tirosinase.
Meskipun sel-sel penghasil pigmen (melanosit) ada, mereka tidak mampu memproduksi pigmen melanin sama sekali, yang secara langsung menjelaskan ciri khas kelinci albino yang sangat mencolok.
Ciri khas kelinci albino adalah tampilan fisiknya yang unik, yang seluruhnya didominasi oleh warna putih murni dan mata merah muda atau merah. Warna bulu dan kulit mereka secara total tidak berpigmen; seluruh tubuh kelinci diselimuti oleh bulu putih layaknya salju karena tidak adanya melanin yang memberikan warna.
Fenomena mata merah menjadi ciri diagnostik yang paling menonjol dan seringkali menimbulkan pertanyaan. Mata kelinci albino tidak benar-benar berwarna merah dari pigmen, melainkan warna merah tersebut adalah refleksi dari pembuluh darah di dalam retina mata yang terlihat jelas karena tidak tertutupi oleh lapisan pigmen melanin pada iris dan koroid.
Selain itu, ketiadaan pigmen pada struktur mata ini juga menyebabkan kelinci albino cenderung memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya (fotofobia) dan mungkin mengalami gangguan penglihatan lain, meskipun tidak selalu parah.***