POLA JABAR - Kesehatan usus seringkali dianggap sebagai cerminan kesehatan tubuh secara keseluruhan, dan peran mikrobioma usus kumpulan triliunan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan kita adalah pusatnya. Salah satu makanan yang sering menjadi perdebatan dalam diet sehat adalah keju. Namun, berdasarkan penelitian, ternyata konsumsi keju, terutama jenis tertentu, dapat memberikan dampak yang cukup positif pada keseimbangan mikroba di dalam usus.
Keju adalah produk olahan susu yang dibuat melalui proses fermentasi, dan proses inilah yang menjadi kunci. Keju mengandung nutrisi makro seperti lemak dan protein, serta kalsium dan Vitamin B12, tetapi yang paling penting bagi usus adalah potensi keberadaan probiotik (bakteri baik hidup) dan cara komponen keju berinteraksi dengan lingkungan usus.
Studi menunjukkan bahwa asam lemak yang dilepaskan selama pencernaan keju dapat mempengaruhi pertumbuhan spesies bakteri tertentu, yang pada akhirnya berkontribusi pada keragaman dan kesehatan ekosistem usus. Memiliki mikrobioma yang beragam sangat penting karena dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mengurangi risiko peradangan kronis.
Lebih detail lagi, jenis-jenis keju yang melalui proses penuaan dan fermentasi yang kompleks, seperti keju keras (misalnya Parmesan) atau keju biru (misalnya Gorgonzola), dipercaya mengandung komponen yang lebih menguntungkan bagi usus. Beberapa keju memiliki potensi menjadi sumber probiotik alami, yaitu bakteri hidup yang, ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, memberikan manfaat kesehatan bagi host (tubuh kita).
Bakteri baik ini dapat membantu memperkuat lapisan usus, bersaing dengan bakteri jahat, dan membantu proses pencernaan, khususnya pemecahan laktosa bagi sebagian orang. Namun, bahkan keju yang tidak mengandung probiotik hidup pun masih bisa bermanfaat. Selama proses pencernaan keju, senyawa bioaktif tertentu dilepaskan.
Senyawa ini dapat bertindak sebagai prebiotik, yang secara efektif menjadi makanan bagi bakteri baik yang sudah ada di dalam usus Anda, membantu mereka berkembang biak dan melakukan fungsinya dengan lebih baik. Dengan demikian, keju tidak hanya memberikan nutrisi, tetapi juga secara aktif memodulasi (mengatur) lingkungan mikroba usus.
Meski keju menunjukkan janji positif untuk kesehatan usus, penting untuk membedakan antara jenis keju yang bermanfaat dan yang kurang. Keju olahan tinggi dengan banyak zat tambahan, pewarna, atau lemak jenuh yang berlebihan, cenderung memiliki manfaat yang lebih kecil bagi usus, bahkan mungkin memberikan dampak negatif pada kesehatan secara umum jika dikonsumsi berlebihan. Kualitas dan proses pembuatan keju sangat menentukan dampaknya pada mikrobioma.
Para ahli menyarankan untuk memilih keju yang diolah sesedikit mungkin dan dibuat dari susu berkualitas baik. Konsumsi keju harus tetap dalam konteks diet seimbang dan moderat. Intinya, dampak positif keju pada usus melalui penyediaan probiotik atau pelepasan senyawa yang mendukung pertumbuhan bakteri baik hanya akan optimal jika keju tersebut dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang kaya serat, buah, dan sayuran, yang merupakan sumber prebiotik terbaik bagi tubuh.
Jadi, lain kali Anda menikmati sepotong keju, Anda tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga secara tidak langsung memberi nutrisi dan dukungan kepada 'dunia kecil' yang bekerja keras di dalam perut Anda. Keju, terutama yang difermentasi secara tradisional, bisa menjadi tambahan yang lezat dan berpotensi bermanfaat dalam upaya Anda mencapai keseimbangan mikrobioma usus yang lebih baik.***