POLA JABAR - Dunia teh menawarkan spektrum rasa yang luas, namun di tengah-tengah antara kesegaran teh hijau dan kekuatan teh hitam, terdapat satu kategori yang sering disebut sebagai mahakarya pengolahan daun teh yakni Teh Oolong.

Seringkali disalahpahami sebagai jenis tanaman yang berbeda, oolong sebenarnya berasal dari tanaman yang sama dengan teh lainnya, yakni Camellia sinensis. Yang membedakannya adalah presisi dalam proses pengolahannya seperti dilansir dari teatulia.com.

Apa Itu Teh Oolong?

Secara teknis, teh oolong adalah teh yang mengalami proses oksidasi parsial. Jika teh hijau hampir tidak dioksidasi sama sekali untuk menjaga warna hijaunya, dan teh hitam dioksidasi penuh hingga berwarna gelap, oolong berada di wilayah abu-abu di antaranya. 

Tingkat oksidasi ini bisa bervariasi antara 8% hingga 80%, yang menciptakan rentang rasa yang luar biasa luas mulai dari aroma bunga yang ringan hingga karakter smoky dan pekat seperti kacang panggang.

Proses Pembuatan yang Menentukan Karakter

Keunikan oolong terletak pada keterampilan sang pengrajin teh (tea master). Daun teh oolong biasanya dibiarkan layu di bawah sinar matahari, kemudian dikocok atau diputar dalam keranjang untuk memarahi tepian daunnya. Kerusakan fisik yang disengaja ini memicu proses oksidasi.

Setelah mencapai tingkat oksidasi yang diinginkan, proses tersebut dihentikan dengan pemanasan. Hasil akhirnya seringkali berupa daun yang digulung menjadi bola-bola kecil atau dipelintir memanjang. Bentuk ini bukan sekadar estetika; gulungan tersebut berfungsi untuk menjaga aroma dan minyak esensial di dalam daun agar tetap terjaga hingga diseduh.

Profil Rasa dan Karakteristik