POLA JABAR - Dalam dunia diet yang penuh dengan tren plant-based dan pantangan kalori, pertanyaan mengenai susu sapi sering kali muncul ke permukaan. Banyak yang ragu: apakah segelas susu akan merusak progres diet, atau justru menjadi katalisator pembakaran lemak? Mengacu pada data kesehatan dari Mayo Clinic, jawaban atas pertanyaan ini ternyata lebih kompleks daripada sekadar menghitung kalori.

Susu adalah asupan padat nutrisi yang mengandung kalsium, protein, dan vitamin D. Namun, cara tubuh merespons susu sangat bergantung pada jenis susu yang dipilih dan bagaimana ia diintegrasikan ke dalam pola makan harian.

Protein dan Efek Kenyang Lebih Lama

Salah satu alasan mengapa susu dianggap baik untuk diet adalah kandungan proteinnya, terutama kasein dan whey. Protein dikenal sebagai makronutrisi yang paling mengenyangkan. Saat Anda mengonsumsi susu, proses pencernaan protein cenderung lebih lambat, yang mengirimkan sinyal kenyang ke otak lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Menurut riset yang sering ditekankan oleh para ahli nutrisi, asupan protein yang cukup saat diet sangat krusial untuk mencegah hilangnya massa otot. Ketika Anda kekurangan kalori, tubuh cenderung memecah otot untuk energi. Susu membantu menjaga massa otot tersebut tetap utuh, sehingga metabolisme Anda tetap bekerja optimal bahkan saat berat badan turun.

Kalsium dan Mekanisme Pembakaran Lemak

Menariknya, kalsium bukan hanya soal kesehatan tulang. Beberapa studi yang dipantau oleh pakar kesehatan menunjukkan adanya kaitan antara asupan kalsium yang cukup dengan efisiensi metabolisme lemak. Kalsium dalam susu diyakini dapat membantu proses oksidasi lemak dalam tubuh.

Meskipun susu bukan "minuman ajaib" yang bisa membakar lemak secara instan, kehadirannya dalam pola makan seimbang membantu memastikan tubuh tidak kekurangan nutrisi esensial yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi metabolisme dasar.

Memilih Jenis Susu: Whole Milk atau Low-Fat?