POLA JABAR - Banyak dari kita tumbuh dengan doktrin bahwa segelas susu adalah kunci utama kesehatan tulang dan pertumbuhan. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, muncul pertanyaan besar: apakah tubuh orang dewasa benar-benar membutuhkan asupan susu setiap hari?

Merujuk pada ulasan dari Harvard Health, jawaban untuk pertanyaan ini ternyata tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Ada batasan tipis antara manfaat nutrisi dan risiko yang perlu kita waspadai.

Susu memang gudangnya kalsium. Mineral ini sangat vital untuk mencegah osteoporosis. Namun, riset dari Harvard menunjukkan bahwa mengkonsumsi susu dalam jumlah yang sangat tinggi tidak serta-merta menurunkan risiko patah tulang secara drastis dibandingkan dengan konsumsi moderat.

Para ahli di Harvard menyarankan bahwa orang dewasa sebenarnya hanya membutuhkan sekitar 1.000 hingga 1.200 miligram kalsium per hari. Jika Anda sudah mendapatkan kalsium dari sayuran hijau, kacang-kacangan, atau ikan, maka minum susu tiga kali sehari mungkin sudah termasuk kategori berlebihan.

Salah satu alasan mengapa Harvard menyarankan moderasi adalah kandungan lemak jenuh dalam susu full cream. Konsumsi lemak jenuh yang tinggi sering dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL, yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Jika Anda tetap ingin minum susu setiap hari, beralih ke produk rendah lemak (low fat) atau skim milk bisa menjadi pilihan yang lebih bijak untuk menjaga kesehatan kardiovaskular.

Beberapa studi jangka panjang yang dipantau oleh para peneliti Harvard juga menyoroti kaitan antara konsumsi produk susu yang sangat tinggi dengan risiko kesehatan tertentu, seperti masalah prostat pada pria. Meskipun penelitian ini masih terus berkembang, pesan utamanya tetap sama: moderasi adalah kunci.

Selain itu, bagi banyak orang di Asia dan Afrika, intoleransi laktosa adalah kondisi yang nyata. Memaksakan minum susu sapi setiap hari justru bisa memicu gangguan pencernaan, mulai dari kembung hingga diare kronis.

Bagi Anda yang ingin mengurangi susu sapi namun tetap ingin mencukupi nutrisi, Harvard Health menyarankan beberapa alternatif nabati yang kini kian populer, seperti: