POLA JABAR - Dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), transformasi pola makan menjadi salah satu agenda paling krusial. 

Di tengah pencarian sumber pangan yang padat nutrisi namun rendah jejak karbon, almond muncul sebagai kandidat utama yang mampu menyeimbangkan kebutuhan kesehatan manusia dengan kelestarian ekosistem.

Keberlanjutan bukan hanya soal apa yang kita makan, melainkan bagaimana makanan tersebut diproduksi dan dampaknya terhadap sumber daya alam. Merujuk pada laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di bawah naungan PBB, pola makan berkelanjutan harus memiliki dampak lingkungan yang rendah namun tetap berkontribusi pada ketahanan pangan. Almond memenuhi kriteria ini melalui pendekatan produksi yang terus berevolusi menuju efisiensi sumber daya.

Seringkali muncul perdebatan mengenai penggunaan air dalam budidaya almond. Namun, data terbaru menunjukkan transformasi besar dalam industri ini. Para petani almond kini menerapkan teknologi irigasi presisi yang memungkinkan pengurangan penggunaan air secara signifikan. 

Langkah ini sejalan dengan target PBB untuk pengelolaan air bersih yang berkelanjutan. Penggunaan sensor tanah dan citra satelit memastikan bahwa setiap tetes air digunakan secara efektif, membuktikan bahwa almond dapat tumbuh berdampingan dengan upaya konservasi air.

Salah satu pilar utama ekonomi sirkuler yang didorong oleh PBB adalah minimalisasi limbah. Almond adalah contoh sempurna dari konsep ini. Pohon almond tidak hanya menghasilkan kacang yang kita konsumsi. 

Kulit luar (hulls) dan cangkang almond kini dimanfaatkan kembali secara inovatif. Kulitnya digunakan sebagai pakan ternak bergizi tinggi yang mengurangi kebutuhan lahan untuk tanaman pakan tradisional, sementara cangkangnya diolah menjadi bahan bakar terbarukan atau tambahan untuk memperkaya struktur tanah.

Dari sisi nutrisi, PBB menekankan pentingnya pangan fungsional untuk memerangi malnutrisi dan penyakit tidak menular. Almond kaya akan lemak tak jenuh tunggal, serat, dan vitamin E. Mengganti sumber protein hewani dengan protein nabati seperti almond secara langsung berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca. 

Jejak karbon almond jauh lebih rendah dibandingkan protein hewani, menjadikannya pilihan ideal bagi masyarakat yang ingin menjalankan diet plant-based tanpa mengorbankan asupan protein.