POLA JABAR - Dalam dunia makanan nabati (plant-based) yang semakin berkembang pesat, dua nama besar mendominasi perbincangan: Impossible Burger dan Beyond Burger. Keduanya sukses besar menarik perhatian konsumen, tidak hanya dari kalangan vegan atau vegetarian, tetapi juga pecinta daging yang ingin mengurangi konsumsi produk hewani tanpa mengorbankan pengalaman rasa yang otentik. 

Meskipun sama-sama menawarkan alternatif daging sapi yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, pendekatan dan komposisi kedua burger ini sangat berbeda, menghasilkan pengalaman makan yang unik bagi penikmatnya. 

Beyond Burger fokus pada meniru tampilan dan tekstur daging sapi tradisional menggunakan protein kacang polong (pea protein) sebagai bahan dasar utama, dilengkapi dengan minyak kelapa dan minyak kanola untuk memberikan kelembaban dan lemak layaknya patty daging sungguhan. 

Pendekatan Beyond cenderung clean dan berusaha menghindari bahan-bahan yang dirasa terlalu "diolah," menjadikannya pilihan favorit bagi mereka yang mengutamakan bahan yang lebih sederhana dan mudah dikenali.

Di sisi lain, Impossible Burger mengambil jalur yang lebih futuristik dengan berfokus pada meniru sensasi rasa dan aroma "daging" yang sebenarnya, terutama efek "berdarah" saat dimasak. Rahasia di balik kemampuannya adalah penggunaan bahan revolusioner yang disebut Heme. 

Heme ini adalah molekul berbasis zat besi yang berasal dari ragi yang direkayasa, yang memberikan warna merah, aroma, dan rasa umami yang sangat mirip dengan daging sapi. Bahan dasar utama Impossible adalah protein kedelai dan kentang. Pendekatan Impossible lebih menekankan pada ilmu pangan untuk menciptakan replika pengalaman makan daging yang nyaris sempurna, mulai dari saat patty diletakkan di atas panggangan hingga gigitan terakhir. Inilah yang sering membuat Impossible Burger menjadi pilihan plant-based yang paling disukai oleh konsumen yang sebelumnya adalah pemakan daging, karena pengalaman sensoriknya yang sangat mendekati aslinya.

Perbedaan kunci antara kedua burger ini terletak pada sasaran rasa dan tekstur yang ingin mereka capai, serta jenis protein yang digunakan sebagai fondasi. Beyond Burger, dengan basis protein kacang polongnya, memiliki tekstur yang cenderung lebih padat dan lebih mirip sereal atau kacang-kacangan, dan saat dimasak, ia akan tetap mempertahankan warna kecoklatan khas. 

Sementara itu, Impossible Burger, berkat Heme-nya, berhasil meniru perubahan warna saat dimasak, dari merah muda menjadi cokelat, dan teksturnya saat dimakan sering kali dirasakan lebih lembut dan "berjus." Baik Impossible maupun Beyond telah membuktikan bahwa alternatif nabati dapat bersaing ketat dengan daging sapi dalam hal kelezatan dan kepuasan, namun perdebatan mengenai mana yang "lebih baik" seringkali kembali pada preferensi pribadi: apakah Anda mencari pengalaman rasa yang sangat mendekati daging (Impossible) atau Anda lebih memilih daftar bahan yang terasa lebih alami (Beyond).

Secara nutrisi, kedua burger ini menawarkan jumlah protein yang sebanding dan keduanya mengandung lemak jenuh, meskipun dalam jumlah yang lebih rendah daripada daging sapi murni. Perdebatan mana yang "lebih baik" tidak bisa diselesaikan secara mutlak; ini sangat bergantung pada apa yang Anda cari.