POLA JABAR – Susu menjadi salah satu minuman bergizi yang kerap dikonsumsi setiap hari. Namun, ada dua jenis susu yang populer di pasaran, yaitu susu UHT (Ultra High Temperature) dan susu pasteurisasi.

Meski sama-sama diproses agar aman dikonsumsi, kedua jenis susu ini memiliki perbedaan signifikan dari segi proses, rasa, dan daya simpan.

1. Proses Pengolahan

  • Susu UHT: Dipanaskan dengan suhu sangat tinggi (135–150°C) dalam waktu singkat (2–5 detik). Tujuannya untuk membunuh semua mikroorganisme sehingga susu bisa disimpan lebih lama tanpa pendinginan.
  • Susu Pasteurisasi: Dipanaskan dengan suhu lebih rendah (62–75°C) selama 15–30 detik. Proses ini cukup untuk membunuh bakteri berbahaya, tetapi susu tetap perlu disimpan di lemari es agar tidak cepat rusak.

2. Daya Simpan

  • Susu UHT: Bisa bertahan hingga 6–12 bulan di suhu ruang sebelum dibuka. Setelah dibuka, harus disimpan di lemari es dan dikonsumsi dalam 3–5 hari.
  • Susu Pasteurisasi: Hanya bertahan 5–7 hari di lemari es. Tidak cocok disimpan di suhu ruang karena cepat rusak.

3. Rasa dan Nutrisi

  • Susu UHT: Rasanya cenderung sedikit berubah karena proses pemanasan sangat tinggi. Kandungan vitamin sensitif panas, seperti vitamin B1 dan C, mungkin berkurang sedikit.
  • Susu Pasteurisasi: Rasa lebih alami dan mirip susu segar. Kandungan nutrisi lebih terjaga dibanding UHT, terutama vitamin yang sensitif terhadap panas.

4. Kemudahan dan Ketersediaan