POLA JABAR – Kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Tokyo, Jepang, pada akhir Maret 2026 ini membuahkan hasil yang sangat signifikan bagi masa depan industri energi tanah air. Pertemuan tingkat tinggi tersebut menghasilkan kesepakatan konkret yang bertujuan untuk mempercepat masuknya investasi strategis, terutama pada sektor energi baru terbarukan serta penguatan program hilirisasi nasional.

Fokus utama dari lawatan diplomatik ini adalah memastikan transisi energi nasional berjalan sesuai peta jalan (roadmap) yang telah ditetapkan. Selain itu, percepatan pengembangan proyek raksasa Blok Masela menjadi poin krusial yang dibahas secara mendalam guna menjamin stabilitas ekonomi dan kedaulatan energi Indonesia di kancah global.

Dua Tugas Utama dari Presiden Prabowo

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang turut mendampingi Presiden dalam kunjungan tersebut, memberikan penjelasan mendetail mengenai misi khusus yang diembannya. Menurut Bahlil, Presiden memberikan instruksi yang sangat spesifik untuk diselesaikan selama berada di Negeri Sakura.

“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, saya itu ditugaskan untuk melakukan dua hal dalam kunjungan di Jepang. Pertama adalah memastikan percepatan tentang investasi di transisi energi. Yang kedua adalah menyangkut INPEX, Blok Masela,” ujar Bahlil dalam keterangan persnya kepada awak media di Tokyo, pada Senin (30/03/2026).

Penugasan ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah dalam mengawal proyek-proyek yang memiliki nilai valuasi tinggi serta dampak sistemik terhadap ketahanan nasional. Blok Masela, yang dikelola bersama INPEX, kini menjadi prioritas utama setelah sekian lama berada dalam tahap perencanaan dan negosiasi.

Blok Masela: Investasi Raksasa dan Teknologi Hijau

Proyek Abadi Blok Masela kini telah memasuki babak baru dengan kepastian investasi yang lebih jelas. Setelah melalui dinamika yang cukup panjang selama puluhan tahun, pemerintah berhasil mengunci komitmen pengembangan dengan nilai yang sangat fantastis. Bahlil memaparkan bahwa pengembangan proyek ini tidak hanya fokus pada ekstraksi gas, tetapi juga mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan.

Nilai dasar pengembangan proyek atau Development Plan of Occupation (DPOD) awalnya berada di kisaran 20 miliar dolar AS. Namun, seiring dengan tuntutan global terhadap standar rendah emisi, terdapat penambahan investasi untuk teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS).