POLA JABAR - Dunia pencuci mulut seringkali terjebak dalam perdebatan klasik: apakah Anda tim cokelat yang intens atau tim karamel yang lembut? Dalam jagat baking, persaingan ini diwakili oleh dua ikon besar, yakni Brownie dan Blondie. Meski sering dianggap sebagai saudara kandung, keduanya memiliki akar sejarah yang unik dan seringkali mengejutkan bagi para pencinta kuliner.
Banyak orang berasumsi bahwa Blondie hanyalah variasi dari Brownie yang dibuat tanpa cokelat. Namun, berdasarkan catatan sejarah kuliner dari Library of Congress, fakta yang ditemukan justru sebaliknya. Sebelum bubuk cokelat menjadi bahan yang terjangkau dan populer di dapur rumah tangga Amerika, resep yang menyerupai "Blondie" sudah lebih dulu eksis.
Pada akhir abad ke-19, kudapan yang dikenal sebagai butterscotch bar atau molasses bar telah menghiasi buku-buku resep. Dessert ini mengandalkan perpaduan gula cokelat (brown sugar) dan mentega untuk menghasilkan rasa karamel yang kaya. Baru pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1904 hingga 1905, resep Brownie berbasis cokelat mulai muncul secara konsisten di media cetak, salah satunya dalam buku masak legendaris Fanny Farmer.
Ada banyak legenda urban mengenai terciptanya Brownie. Salah satu cerita yang paling populer adalah tentang seorang koki yang lupa menambahkan pengembang (baking powder) ke dalam kue cokelatnya, sehingga menghasilkan tekstur bantat yang justru disukai.
Namun, versi sejarah yang lebih akurat menunjuk pada permintaan Bertha Palmer, seorang sosialita asal Chicago pada tahun 1893. Ia meminta koki di Palmer House Hotel untuk membuatkan makanan penutup yang praktis dibawa dalam kotak makan siang untuk para wanita yang mengunjungi World's Columbian Exposition. Hasilnya adalah kue cokelat padat dengan taburan kenari dan lapisan aprikot yang menjadi cikal bakal Brownie modern.
Meskipun secara teknis resep dasarnya (mentega dan gula merah) lebih tua, istilah "Blondie" baru populer digunakan pada pertengahan abad ke-20 untuk membedakannya dengan Brownie. Blondie menawarkan profil rasa yang berbeda secara fundamental. Jika Brownie mengandalkan cocoa mass atau cokelat leleh untuk dominasi rasa, Blondie adalah perayaan bagi reaksi Maillard—proses kimia antara gula dan protein mentega yang menciptakan aroma kacang dan karamel.
Secara teknis kuliner, Blondie bukanlah Brownie cokelat putih. Penggunaan cokelat putih dalam Blondie sebenarnya adalah variasi modern. Blondie sejati adalah tentang kekuatan brown sugar dan ekstrak vanila yang berkualitas tinggi.
Persaingan antara keduanya bukan hanya soal rasa, tetapi juga sensasi di mulut. Brownie cenderung terbagi menjadi dua kubu: fudgy (lembab dan padat) atau cakey (ringan seperti kue). Sementara itu, Blondie hampir selalu dituntut untuk memiliki tekstur yang kenyal (chewy) dengan bagian tepi yang renyah.
Dari sisi bahan, perbedaan utamanya terletak pada jenis lemak dan pemanis. Brownie membutuhkan keseimbangan antara lemak cokelat dan gula pasir putih untuk memunculkan warna gelap yang mengkilap. Di sisi lain, Blondie sangat bergantung pada kelembapan dari gula merah untuk menjaga teksturnya tetap lembut dan tidak kering.