POLA JABAR – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato krusial yang menekankan perlunya reformasi fundamental dalam tata kelola ekonomi nasional pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Jakarta. Di hadapan para legislator, Kepala Negara menyoroti kontradiksi besar antara melimpahnya kekayaan alam Indonesia dengan realitas kesejahteraan masyarakat yang belum merata.

Presiden Prabowo optimistis bahwa Indonesia dibekali modal yang sangat kuat untuk bertransformasi menjadi negara maju.

Keunggulan tersebut mencakup letak geografis yang strategis, cadangan sumber daya alam yang melimpah, hingga momentum bonus demografi.

"Kita sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk mewujudkan cita-cita dan harapan ini. Posisi geografis kita sangat strategis. Puluhan persen perdagangan dunia melalui perairan kita,” ujar Presiden.

Selain potensi ekonomi jalur laut, Presiden memberikan perhatian khusus pada sektor pertahanan dan keamanan maritim. Beliau mengungkapkan kekesalannya atas eksploitasi ilegal yang dilakukan oleh pihak asing secara sembunyi-sembunyi di wilayah perairan kedaulatan Indonesia.

“Tiap malam puluhan ribu kapal berbendera asing mengambil kekayaan kita secara ilegal, secara tidak sah. Harus kita tegakkan kedaulatan kita di lautan kita sendiri,” tegas Presiden.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menjabarkan posisi Indonesia sebagai pemain utama global untuk beberapa komoditas mentah maupun olahan. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai eksportir terbesar dunia untuk minyak kelapa sawit (crude palm oil), batu bara, serta produk paduan besi (ferro alloys).

“Devisa ekspor minyak kelapa sawit mencapai 23 miIiar dolar, setara dengan Rp391 triliun pada tahun 2025. Indonesia juga adalah pengekspor batu bara terbesar di dunia. Devisa ekspor batu bara mencapai 30 miIiar dolar Amerika setara Rp510 triliun pada tahun 2025,” ucap Presiden.

Namun, tingginya angka ekspor tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan kapasitas fiskal negara.