POLAJABAR.COM - Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini mengeluarkan proyeksi terbaru mengenai kondisi perekonomian Iran untuk tahun 2026. Proyeksi ini menunjukkan adanya sedikit optimisme, meskipun tantangan ekonomi yang signifikan masih membayangi negara tersebut.

Secara spesifik, IMF memprediksi bahwa perekonomian Iran akan tetap mengalami kontraksi atau berada di zona negatif pada tahun 2026. Kontraksi ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh dampak berkelanjutan dari ketegangan dan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Dalam dokumen resmi terbarunya, yaitu laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026, IMF menetapkan angka pertumbuhan ekonomi Iran diproyeksikan mencapai minus 5,4%. Angka ini merupakan perkembangan yang sedikit lebih baik dibandingkan estimasi sebelumnya.

Proyeksi minus 5,4% tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 0,7% jika dibandingkan dengan proyeksi yang disampaikan pada edisi WEO sebelumnya di bulan April. Peningkatan ini mengindikasikan adanya perbaikan minor dalam pandangan ekonomi jangka menengah Iran.

Pada WEO edisi April, IMF sebelumnya memperkirakan bahwa Iran akan menghadapi kontraksi ekonomi yang lebih dalam, yakni sebesar minus 6,1% untuk periode tahun yang sama. Perbedaan proyeksi ini menandakan adanya penyesuaian dalam analisis institusi keuangan global tersebut.

Perubahan proyeksi ini secara implisit menggambarkan bagaimana dinamika geopolitik di Timur Tengah terus menjadi variabel krusial yang memengaruhi prospek ekonomi Iran ke depan. Kondisi regional yang tidak stabil menjadi faktor utama yang menahan laju pemulihan ekonomi.

Dilansir dari BisnisMarket.com, proyeksi ini disampaikan langsung dari pusat operasional IMF di Washington DC. Ini menegaskan bahwa lembaga tersebut terus memantau perkembangan ekonomi Iran secara intensif.

"Ekonomi negara tersebut diperkirakan masih akan mengalami kontraksi (zona minus) sebesar -5,4% pada tahun 2026, yang dipengaruhi oleh dampak berkelanjutan dari konflik di Timur Tengah," demikian disampaikan oleh perwakilan IMF dalam analisisnya.

"Angka ini mengalami peningkatan 0,7% dibandingkan proyeksi sebelumnya pada WEO edisi April, di mana IMF memperkirakan kontraksi sebesar -6,1% untuk tahun yang sama," tambah mereka dalam pembaruan proyeksi tersebut.