POLA JABAR - Kepiting merupakan salah satu hidangan laut paling populer di Indonesia. Tekstur dagingnya yang lembut dan rasa manis alaminya membuat siapa pun sulit menolak. Namun, di balik kelezatan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang jarang disadari oleh konsumen: akumulasi logam berat.
Berdasarkan laporan dan standar dari Environmental Protection Agency (EPA), kepiting termasuk dalam kategori biota laut yang rentan terpapar polutan lingkungan. Hal ini disebabkan oleh sifat hidup mereka sebagai bottom feeders atau pemakan di dasar perairan yang sering kali menjadi tempat mengendapnya limbah industri.
Sebagai hewan yang hidup di substrat berlumpur dan muara sungai, kepiting secara alami menyaring makanan dari lingkungan sekitarnya. Masalah muncul ketika perairan tersebut tercemar oleh logam berat seperti Merkuri (Hg), Kadmium (Cd), Timbal (Pb), dan Arsenik (As).
Proses ini dikenal dengan istilah bioakumulasi. Logam berat yang masuk ke tubuh kepiting tidak dapat dikeluarkan dengan mudah dan justru mengendap di dalam jaringan otot serta organ dalam, terutama di bagian hepatopankreas (lemak kuning atau "otak" kepiting). Saat manusia mengkonsumsinya, logam tersebut berpindah ke tubuh kita dan mulai menumpuk seiring berjalannya waktu.
Daftar Logam Berat yang Sering Ditemukan pada Kepiting
EPA dan berbagai studi kesehatan menyoroti beberapa jenis logam yang paling sering menjadi ancaman dalam komoditas krustasea ini:
Merkuri (Methylmercury): Jenis logam ini adalah yang paling diwaspadai karena sifatnya yang neurotoksik. Paparan tinggi dapat merusak sistem saraf pusat dan otak.
Kadmium: Sering ditemukan pada kepiting yang hidup di dekat wilayah industri. Kadmium dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang serius dan bersifat karsinogenik (pemicu kanker).
Timbal (Pb): Logam ini berbahaya bagi pembentukan sel darah merah dan dapat mengganggu fungsi kognitif, terutama pada anak-anak.