POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, peta konsumsi pangan dunia mengalami transformasi signifikan. Salah satu komoditas yang menunjukkan performa paling konsisten adalah kacang badam atau yang lebih dikenal sebagai almond.
Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), permintaan pasar terhadap almond tidak lagi hanya didorong oleh industri penganan tradisional, melainkan telah bergeser menjadi bagian integral dari gaya hidup sehat modern.
Faktor utama yang mendorong tren ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat global akan nutrisi. Almond diakui secara luas sebagai sumber protein nabati, serat, dan lemak tak jenuh yang luar biasa. Data FAO menunjukkan bahwa negara-negara di Amerika Utara dan Eropa masih mendominasi volume konsumsi, namun pertumbuhan tercepat justru terjadi di kawasan Asia, khususnya China dan India.
Di wilayah-wilayah tersebut, almond dianggap sebagai simbol status sosial sekaligus investasi kesehatan. Masyarakat kelas menengah yang sedang tumbuh mulai beralih dari camilan tinggi gula ke kacang-kacangan sebagai alternatif yang lebih padat nutrisi.
Pertumbuhan konsumsi almond juga sangat dipengaruhi oleh masifnya inovasi di industri makanan dan minuman. Munculnya tren diet vegan dan ketogenik telah memposisikan almond sebagai bahan baku utama dalam pembuatan susu nabati, tepung tanpa gluten, hingga mentega kacang.
FAO mencatat bahwa diversifikasi produk ini memungkinkan almond masuk ke segmen pasar yang lebih luas. Jika dahulu almond hanya dinikmati sebagai taburan kue, kini ia menjadi bahan dasar utama bagi konsumen yang memiliki intoleransi laktosa atau mereka yang mencari alternatif pengganti produk susu sapi. Hal inilah yang menjaga grafik permintaan tetap stabil meskipun harga komoditas ini seringkali fluktuatif di pasar internasional.
Meski tren konsumsi terus meningkat, tantangan besar membayangi sisi suplai. Produksi almond sangat terkonsentrasi di wilayah tertentu, seperti California di Amerika Serikat yang memasok sebagian besar kebutuhan dunia. FAO sering menyoroti pentingnya manajemen sumber daya air dalam budidaya almond, mengingat tanaman ini membutuhkan irigasi yang cukup intensif.
Isu perubahan iklim menjadi variabel yang sangat diperhatikan oleh para pelaku pasar. Adanya gangguan cuaca di wilayah produksi utama dapat berdampak langsung pada harga eceran di berbagai belahan dunia. Namun, hal ini justru memicu riset lebih lanjut mengenai varietas almond yang lebih tahan kekeringan, guna memastikan ketersediaan pangan di masa depan.
Melihat tren yang ada, para ahli optimis bahwa almond akan tetap menjadi pemimpin di kategori kacang-kacangan pohon. Dukungan data FAO memperlihatkan bahwa selama kampanye hidup sehat terus bergulir, maka permintaan terhadap almond akan terus tumbuh secara organik.