POLA JABAR - Udang Windu (Penaeus monodon), atau yang secara internasional dikenal sebagai Black Tiger Prawn, tetap menjadi primadona dalam dunia akuakultur global. Namun, di balik nilai ekonominya yang fantastis, terdapat narasi ekologis yang jauh lebih kompleks. Berdasarkan data dari WorldFish, keberlangsungan hidup udang asli Indo-Pasifik ini sangat bergantung pada kondisi habitat alaminya yang kian terancam.

Memahami di mana dan bagaimana udang ini hidup bukan hanya penting bagi para petambak, tetapi juga krusial bagi upaya konservasi laut dunia.

Udang Windu memulai siklus hidupnya dengan cara yang unik. Berbeda dengan spesies air tawar, udang ini membutuhkan dua dunia untuk tumbuh dewasa. Habitat utamanya adalah kawasan pesisir, khususnya hutan mangrove yang memiliki sistem akar rapat.

Akar mangrove berfungsi sebagai 'nursery ground' atau tempat pembibitan alami. Di sini, juvenil (udang muda) berlindung dari predator besar sekaligus mendapatkan suplai makanan yang melimpah dari detritus atau bahan organik yang membusuk. Tanpa mangrove, populasi udang windu di alam liar dipastikan akan merosot tajam karena kehilangan benteng perlindungan utamanya.

Karakteristik Perairan yang Disukai

Menurut riset WorldFish, udang windu adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Mereka lebih menyukai perairan payau dengan dasar berlumpur atau berpasir. Berikut adalah beberapa parameter lingkungan yang menjadi syarat mutlak habitat mereka:

  • Salinitas yang Dinamis: Udang ini memiliki kemampuan osmoregulasi yang hebat, memungkinkan mereka bertahan di muara sungai dengan kadar garam rendah hingga ke laut lepas yang asin.

    Suhu Tropis: Sebagai spesies asli perairan hangat, mereka tumbuh optimal pada suhu berkisar 28 hingga 32 derajat Celcius.

    Kandungan Oksigen: Habitat yang sehat harus memiliki sirkulasi air yang baik untuk memastikan kadar oksigen terlarut tetap tinggi, terutama pada malam hari.