POLA JABAR - Banyak orang yang sedang menjalani program diet atau menjaga kadar gula darah cenderung menjauhi segala bentuk pasta. Spageti seringkali dikelompokkan bersama roti putih dan nasi sebagai sumber karbohidrat yang harus dihindari. Namun, penelitian medis menunjukkan fakta yang justru sebaliknya.

Berdasarkan studi literatur yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients melalui platform National Center for Biotechnology Information (NCBI), spageti memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari produk gandum lainnya. Kuncinya terletak pada Indeks Glikemik (IG).

Apa Itu Indeks Glikemik dan Mengapa Penting?

Indeks Glikemik adalah skala (0–100) yang mengukur seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar glukosa darah setelah dikonsumsi. Makanan dengan IG tinggi (di atas 70) menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, sedangkan makanan dengan IG rendah (di bawah 55) dicerna lebih lambat, memberikan energi yang stabil, dan menjaga rasa kenyang lebih lama.

Secara mengejutkan, meskipun spageti terbuat dari tepung gandum (durum wheat), ia secara konsisten menempati kategori Indeks Glikemik Rendah hingga Sedang, dengan rata-rata skor di angka 45 hingga 50.

Rahasia Struktur Mikro Spageti

Mengapa spageti berbeda dengan roti atau kentang? Studi tersebut menjelaskan bahwa proses pembuatan spageti menciptakan struktur fisik yang padat. Selama proses ekstrusi (pencetakan pasta), jaringan protein gluten membungkus butiran pati dengan sangat rapat.

Hal ini menciptakan penghalang fisik bagi enzim pencernaan di dalam tubuh. Akibatnya, enzim membutuhkan waktu lebih lama untuk memecah pati menjadi gula. Inilah alasan mengapa pelepasan energi dari spageti terjadi secara bertahap, bukan instan yang bisa memicu lonjakan insulin.

Faktor Pemasakan: Jangan Terlalu Lembek