POLA JABAR – Menghadapi tantangan kerusakan lingkungan, DPRD Kabupaten Bandung menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung inovasi teknologi hijau. Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu Fauzie, menegaskan bahwa aksi penaburan benih dari udara atau aeroseeding bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bukti nyata adaptasi teknologi demi penyelamatan ekologi.
"Aeroseeding adalah bukti kita tengah beradaptasi dengan teknologi untuk investasi jangka panjang. Fokus utamanya adalah menjaga ketersediaan air dan mencegah bencana longsor," ujar Renie di Lanud Husein Sastranegara, Sabtu 31 Januari 2026.
Dalam aksi kolaboratif ini, sebanyak 52 juta biji pohon buah-buahan (setara dengan 8 ton) diterjunkan menggunakan pesawat Casa C-212 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Penggunaan moda transportasi udara ini dipilih karena efektivitasnya dalam menjangkau area kritis yang sulit diakses melalui jalur darat.
Renie memberikan apresiasi tinggi kepada Pemkab Bandung dan Lanud Husein Sastranegara atas inisiatif ini. Menurutnya, metode ini jauh lebih efisien secara waktu dibandingkan penanaman konvensional.
"Atas nama pimpinan dan anggota DPRD, kami mengapresiasi langkah pemulihan ekosistem melalui aeroseeding ini. Ini adalah solusi inovatif untuk mempercepat regenerasi hutan kita," tambah Politisi PKB tersebut.
Sebagai Ketua Perempuan Bangsa Kabupaten Bandung, Renie menekankan bahwa orientasi pembangunan haruslah berwawasan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa warisan terbaik untuk generasi mendatang bukanlah tumpukan bangunan fisik, melainkan lingkungan yang asri.
"Investasi terbaik bukan tumpukan beton, melainkan alam yang hijau, udara yang bersih, dan air yang melimpah," tegasnya dengan lugas.
Agar jutaan benih yang telah ditebar dapat tumbuh maksimal, Renie mengimbau adanya sinergi kuat antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat luas. Pengawasan area yang telah disemai menjadi kunci agar fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dapat kembali pulih sepenuhnya.
Dengan langkah ini, Kabupaten Bandung diharapkan menjadi pionir dalam pemulihan lahan kritis yang memadukan kekuatan militer, teknologi, dan kebijakan publik yang pro-lingkungan.***