POLA JABAR - Selama puluhan tahun, kacang tanah mungkin hanya dipandang sebagai bahan pelengkap sambal atau sekadar camilan goreng di meja ruang tamu. Namun, seiring dengan pergeseran gaya hidup global dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan, kacang tanah kini tengah mengalami masa "renaisans" di industri pangan dunia.
Mengutip tren yang berkembang di FoodNavigator, inovasi terhadap kacang tanah kini telah melampaui batas-batas tradisional, menjadikannya bahan baku strategis dalam produk olahan modern yang lebih sehat, berkelanjutan, dan fungsional.
Pilar Utama dalam Gerakan Plant-Based
Salah satu pendorong utama naiknya popularitas kacang tanah adalah ledakan pasar protein nabati (plant-based). Kacang tanah kini tidak hanya diolah menjadi selai, tetapi diekstraksi menjadi isolat protein yang menjadi bahan dasar daging imitasi (meat alternatives).
Karakteristik kacang tanah yang memiliki rasa gurih alami (umami) memberikan keunggulan dibandingkan sumber nabati lain seperti kedelai atau kacang polong. Produsen pangan modern menggunakan teknologi ekstrusi untuk menciptakan tekstur serat yang menyerupai daging asli, menjadikan kacang tanah sebagai solusi murah namun berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan protein global.
Inovasi Produk Turunan: Dari Susu Hingga Tepung Defatted
Dunia susu alternatif juga tidak luput dari pengaruh kacang tanah. Setelah tren susu almon dan oat, kini susu kacang tanah mulai merambah pasar karena profil nutrisinya yang padat dan jejak karbonnya yang relatif lebih rendah dalam proses budidaya.
Selain itu, industri pangan kini mulai memanfaatkan tepung kacang tanah yang telah dihilangkan lemaknya (defatted peanut flour). Produk ini menjadi favorit di kalangan pecinta kebugaran karena mengandung konsentrasi protein yang sangat tinggi namun rendah kalori. Tepung ini digunakan dalam berbagai produk, mulai dari bubuk protein go-to hingga bahan campuran pembuatan roti premium yang bebas gluten.