POLA JABAR – Sebuah tradisi baru dalam menjaga kebersihan lingkungan mulai diperkenalkan di Kota Bandung. Melalui gerakan bertajuk "Sapu-Sapu Bandung", Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggelar aksi bersih-bersih massal secara serentak setiap hari Minggu, mulai pukul 04.00 hingga 07.00 WIB.

Pada fase uji coba perdananya, sebanyak 4.600 aparatur kewilayahan dikerahkan untuk menyisir jalanan kota. Langkah ini diambil untuk memastikan estetika kota tetap terjaga, terutama pada momen akhir pekan di mana arus kunjungan wisatawan sedang berada di puncaknya.

Membangun Budaya Baru di Lingkungan Birokrasi

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa esensi dari program ini bukan sekadar menyapu jalanan, melainkan sebuah transformasi mental dan budaya kerja di lingkungan pemerintahan.

“Tujuannya membangkitkan kebiasaan baru, setiap Minggu subuh wali kota, camat, lurah, dan jajaran kewilayahan turun langsung membersihkan jalan,” ujar Farhan di Taman Cikapayang, Minggu 19 April 2026.

Pemilihan waktu hari Minggu pagi dianggap sangat strategis. Farhan menilai, sebagai kota tujuan wisata, Bandung memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana pagi di Kota Kembang.

Perluasan Titik Lokasi dan Evaluasi

Antusiasme jajaran kewilayahan membuat cakupan program ini berkembang pesat. Dari rencana semula yang hanya menyasar 30 titik, pelaksanaannya meluas hingga ke 47 lokasi berbeda. Kawasan populer seperti Lengkong Kecil dan Jalan L.L.R.E. Martadinata menjadi objek evaluasi khusus untuk mengoptimalkan penanganan sampah di periode berikutnya.

Gerakan ini merupakan kolaborasi masif yang melibatkan 151 kelurahan dan 30 kecamatan, didukung penuh oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta para petugas Gorong-gorong dan Kebersihan (Gober).