POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak aroma gurih daging yang dibakar di atas arang panas? Aroma khas yang mengepul di sudut-sudut jalan Jakarta, Bangkok, hingga Singapura ini adalah pertanda kehadiran sate, salah satu makanan jalanan (street food) paling ikonik dan dicintai di dunia.

Sate bukan sekadar potongan daging yang ditusuk lidi. Ia adalah simbol identitas budaya, sejarah panjang perdagangan, dan keberagaman rasa yang dimiliki Asia Tenggara. Tak heran jika sate masuk ke dalam daftar makanan terbaik dunia, mengakui posisinya sebagai raja kuliner kaki lima.

Meskipun kini dikenal sebagai makanan khas Asia Tenggara, sate diyakini memiliki akar sejarah yang panjang. Melansir informasi dari CNN Travel, sate kemungkinan besar terinspirasi dari kebab yang dibawa oleh pedagang Muslim dari India atau Timur Tengah ke Pulau Jawa, Indonesia, pada abad ke-19.

Masyarakat lokal kemudian mengadaptasi konsep daging panggang tersebut dengan bumbu rempah khas Nusantara dan saus kacang yang kental. Sejak saat itu, sate berevolusi menjadi ribuan varian yang tersebar ke Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Singapura.

Daya tarik utama sate terletak pada keseimbangan rasa. Proses pembuatannya menggabungkan teknik marinasi yang kompleks dengan teknik pembakaran tradisional.