POLA JABAR - Keju merupakan salah satu produk olahan susu tertua di dunia, tidak hanya disukai karena teksturnya yang beragam dan rasanya yang gurih (umami), tetapi juga memiliki efek psikologis yang menarik pada suasana hati (mood). Fenomena ini bukanlah mitos belaka, melainkan didukung oleh ilmu kimia makanan yang mempengaruhi biokimia otak kita.
Salah satu alasan utama keju dapat meningkatkan mood adalah kandungan tinggi protein yang menghasilkan asam amino Triptofan. Triptofan ini merupakan prekursor atau bahan baku esensial yang dibutuhkan otak untuk memproduksi Serotonin, yang sering dijuluki "hormon bahagia" atau neurotransmitter penyeimbang mood. Kadar Serotonin yang optimal sangat terkait dengan perasaan tenang, kesejahteraan emosional, dan berkurangnya kecemasan.
Oleh karena itu, konsumsi keju, terutama sebagai bagian dari makanan seimbang, dapat secara halus mendukung produksi bahan kimia otak yang bertanggung jawab membuat kita merasa lebih rileks dan puas.
Selain Triptofan, keju juga mengandung zat kimia lain yang memicu respons positif pada otak, yang menjelaskan mengapa banyak orang mengalami craving (ngidam) terhadap makanan berbasis keju.
Selama proses pencernaan, protein kasein dalam keju dipecah menjadi peptida yang disebut kaseomorfin. Kaseomorfin ini memiliki struktur molekul yang serupa dengan opioid ringan dan mampu berikatan dengan reseptor opiat di otak.
Meskipun efeknya jauh lebih lembut daripada obat-obatan, ikatan ini dapat memicu sedikit sensasi euforia ringan dan menciptakan perasaan nyaman (comfort) dan keterikatan, yang menjadi ciri khas pengalaman makan comfort food. Efek ini sangat mirip dengan perasaan yang muncul saat bayi mengkonsumsi ASI, yang juga kaya kasein.
Karena ikatan kimia ini, otak cenderung mengasosiasikan konsumsi keju dengan hadiah dan kenyamanan psikologis, memperkuat keinginan untuk mengkonsumsinya saat kita merasa stres atau membutuhkan dorongan emosional.
Aspek psikologis lainnya yang berkontribusi pada pengaruh keju terhadap mood adalah efek comfort food dan memori. Keju, seringkali dikaitkan dengan hidangan yang mengandung kehangatan dan kenangan indah, seperti mac and cheese buatan ibu atau pizza saat berkumpul bersama teman.
Asosiasi positif ini membuat keju secara otomatis memicu respons emosional yang menyenangkan. Selain itu, kandungan lemak dan protein yang tinggi pada keju juga memberikan perasaan kenyang yang tahan lama.