POLA JABAR - Selama ini, jagung lebih dikenal sebagai pengganti nasi atau sekadar camilan saat menonton film. Namun, dibalik butiran kuningnya yang manis, jagung menyimpan kekayaan nutrisi yang luar biasa.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, jagung memiliki profil antioksidan yang unik dan jauh lebih kuat dibandingkan banyak jenis biji-bijian lainnya seperti beras ataupun gandum.
Banyak orang mengira bahwa sayuran hijau adalah satu-satunya sumber antioksidan terbaik. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa jagung memiliki aktivitas antioksidan total yang sangat tinggi. Mengutip data dari Journal of Agricultural and Food Chemistry, kandungan antioksidan dalam jagung bahkan melampaui gandum, gandum utuh, dan beras.
Salah satu senyawa yang paling dominan adalah asam ferulat (ferulic acid). Menariknya, tidak seperti vitamin pada sayuran lain yang sering rusak saat dipanaskan, kandungan asam ferulat dalam jagung justru meningkat secara signifikan setelah melalui proses memasak. Hal ini terjadi karena panas membantu melepaskan ikatan senyawa tersebut dari serat jagung, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh.
Warna kuning cerah pada jagung bukan sekadar hiasan alami. Warna tersebut berasal dari karotenoid, khususnya lutein dan zeaxanthin. Dalam laporan Journal of Agricultural and Food Chemistry, disebutkan bahwa kedua senyawa ini berfungsi sebagai filter alami bagi mata.
Lutein dan zeaxanthin bekerja melindungi retina dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh paparan cahaya biru (blue light) dan sinar matahari. Mengonsumsi jagung secara rutin dipercaya dapat menurunkan risiko degenerasi makula dan katarak, yang merupakan penyebab utama kebutaan pada lansia.
Selain untuk kesehatan mata, asam ferulat dalam jagung memiliki peran krusial dalam melawan peradangan di dalam tubuh. Antioksidan ini bekerja dengan cara menetralkan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel sehat.
Dalam jangka panjang, asupan antioksidan yang konsisten dari jagung dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker. Serat yang menyatu dengan senyawa fenolik dalam jagung juga membantu menjaga kesehatan pencernaan sekaligus mengontrol kadar gula darah, menjadikannya pilihan karbohidrat yang lebih aman bagi banyak orang.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, para ahli menyarankan untuk mengolah jagung dengan cara direbus atau dikukus. Berdasarkan temuan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, proses pemanasan pada suhu sekitar 115 derajat Celsius selama beberapa menit justru meningkatkan kapasitas antioksidan jagung hingga 44 persen.