POLA JABAR - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bulir jagung yang kita temui di supermarket kini tampak begitu sempurna, tahan hama, dan ukurannya seragam? Besar kemungkinan, itu adalah hasil rekayasa genetika atau yang sering disebut sebagai jagung transgenik (GMO). Namun, seiring dengan kehadirannya, muncul pula kekhawatiran: apakah teknologi ini membawa dampak buruk bagi kesehatan kita di masa depan?

Apa Itu Jagung Transgenik? Secara sederhana, jagung transgenik adalah jagung yang DNA-nya telah dimodifikasi di laboratorium dengan menyisipkan gen dari organisme lain. Tujuannya beragam, mulai dari membuat tanaman tahan terhadap serangan ulat, hingga membuatnya kebal terhadap semprotan herbisida. 

Di satu sisi, ini adalah keajaiban teknologi pangan untuk mengatasi kelaparan global. Di sisi lain, banyak orang merasa was-was memakan sesuatu yang "didesain" oleh manusia.

Sudut Pandang WHO: Keamanan Adalah Prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak memberikan pernyataan general bahwa semua produk GMO itu aman. Namun, WHO menegaskan bahwa setiap produk pangan transgenik yang ada di pasar internasional saat ini telah melalui penilaian risiko yang sangat ketat.

Menurut WHO, produk GMO yang lolos uji tidak menunjukkan risiko bagi kesehatan manusia dibandingkan dengan produk konvensionalnya. Penekanan kuncinya adalah pada "penilaian kasus per kasus". Artinya, setiap jenis jagung transgenik baru harus diuji secara mandiri sebelum boleh dikonsumsi masyarakat luas.

Tiga Kekhawatiran Utama yakni Alergi, Gen, dan Lingkungan. Ada tiga isu besar yang sering dibahas para ahli jurnalisme sains. Pertama adalah potensi alergi. WHO memastikan bahwa tidak boleh ada pemindahan gen dari bahan makanan pemicu alergi kecuali jika protein tersebut terbukti tidak alergenik. Kedua adalah perpindahan gen dari tanaman ke sel tubuh atau bakteri dalam sistem pencernaan. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, para ilmuwan terus memantau risiko ini.

Ketiga adalah outcrossing, yaitu perpindahan gen dari tanaman transgenik ke tanaman liar di alam. Hal ini lebih berkaitan dengan keamanan pangan dan ekosistem daripada kesehatan langsung manusia, namun tetap menjadi perhatian serius dalam regulasi global.

Bagaimana Kita Harus Bersikap? Sebagai konsumen, tidak perlu panik. Faktanya, sebagian besar jagung transgenik diolah menjadi bahan makanan turunan seperti sirup jagung, tepung, atau minyak yang kita konsumsi sehari-hari tanpa sadar. Hingga saat ini, belum ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa konsumsi jagung transgenik menyebabkan gangguan kesehatan pada populasi manusia secara massal.

Kuncinya adalah transparansi label. Di banyak negara, produk yang mengandung bahan GMO wajib mencantumkan keterangan pada kemasannya. Dengan begitu, konsumen memiliki hak penuh untuk memilih apa yang ingin mereka hidangkan di meja makan.