POLA JABAR - Kepiting merupakan salah satu primadona dalam dunia seafood. Dagingnya yang lembut, manis, dan gurih membuat banyak orang sulit untuk berhenti saat menyantapnya. Secara nutrisi, kepiting sebenarnya kaya akan protein, asam lemak omega-3, selenium, dan vitamin B12 yang baik untuk otak dan jantung.

Namun, seperti pepatah lama "segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," mengkonsumsi kepiting dalam jumlah besar sekaligus bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan. Melansir data kesehatan dari WebMD, ada beberapa risiko medis yang perlu diwaspadai jika Anda terlalu sering memanjakan lidah dengan hidangan krustasea ini.

1. Lonjakan Kolesterol Jahat dalam Darah

Salah satu perhatian utama saat makan kepiting adalah kandungan kolesterolnya. Meskipun kepiting rendah lemak jenuh dibandingkan daging merah, kadar kolesterol dalam daging kepiting relatif tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah arteri (aterosklerosis).

Kondisi ini jika dibiarkan tentu akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Terlebih lagi, kepiting sering kali disajikan dengan saus padang, mentega, atau digoreng, yang justru menambah asupan lemak trans ke dalam tubuh.

2. Risiko Keracunan Merkuri dan Logam Berat

Sebagai hewan yang hidup di dasar perairan, kepiting berisiko terpapar polutan laut, termasuk merkuri dan kadmium. Merkuri adalah logam berat yang sulit dikeluarkan oleh tubuh. Konsumsi kepiting yang berasal dari perairan tercemar secara terus-menerus dapat menyebabkan akumulasi merkuri dalam sistem saraf manusia.

Gejala keracunan merkuri bisa bervariasi, mulai dari gangguan penglihatan, tremor, hingga masalah perkembangan pada janin jika dikonsumsi berlebih oleh ibu hamil. Inilah mengapa penting untuk mengetahui asal-usul kepiting yang Anda konsumsi.

3. Asupan Natrium (Garam) yang Terlalu Tinggi