POLA JABAR - Banyak dari kita yang terbiasa mengawali hari dengan segelas susu hangat atau kopi susu kekinian. Namun, bagi sebagian orang, kebiasaan ini justru menjadi awal dari drama di kamar mandi. 

Munculnya rasa kembung, mulas, hingga diare sesaat setelah mengkonsumsi produk olahan susu sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, bisa jadi itu adalah tanda bahwa tubuh Anda mengalami intoleransi laktosa.

Berdasarkan data dari National Institutes of Health (NIH), intoleransi laktosa bukanlah kondisi yang langka. Fenomena ini terjadi ketika sistem pencernaan tidak mampu memecah laktosa, yaitu jenis gula alami yang ditemukan dalam susu dan produk turunannya.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Intoleransi laktosa terjadi karena usus kecil tidak menghasilkan cukup enzim yang disebut laktase. Tugas utama laktase adalah memecah laktosa menjadi dua gula sederhana: glukosa dan galaktosa, yang kemudian diserap ke dalam aliran darah.

Tanpa enzim laktase yang mencukupi, laktosa yang tidak tercerna akan langsung menuju usus besar. Di sana, bakteri akan berinteraksi dengan laktosa yang tidak terurai tersebut, memicu fermentasi yang menghasilkan gas dan rasa tidak nyaman pada perut.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Menurut penjelasan medis dari NIH, gejala biasanya muncul dalam waktu 30 menit hingga dua jam setelah mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. 

Tingkat keparahan gejala sangat bergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi dan seberapa sedikit enzim laktase yang dimiliki tubuh.