POLA JABAR - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, susu adalah pelengkap nutrisi harian yang tak tergantikan. Namun, dibalik manfaat kalsium dan proteinnya, terdapat komponen bernama laktosa yang sering kali menjadi "pedang bermata dua" bagi sistem pencernaan.
Merujuk pada data kesehatan dari Cleveland Clinic, laktosa sebenarnya adalah jenis gula kompleks (disakarida) yang secara alami ditemukan dalam susu mamalia, termasuk sapi, kambing, hingga ASI. Meskipun memberikan energi, proses pemecahan laktosa dalam tubuh memerlukan mekanisme yang cukup spesifik.
Bagaimana Tubuh Mengolah Laktosa?
Agar laktosa dapat diserap oleh aliran darah, tubuh kita membutuhkan bantuan enzim khusus bernama laktase. Enzim yang diproduksi di lapisan usus halus ini bertugas memecah laktosa menjadi dua gula sederhana: glukosa dan galaktosa.
Ketika laktase bekerja dengan baik, gula-gula sederhana ini akan masuk ke pembuluh darah dan berubah menjadi energi. Namun, masalah kesehatan muncul ketika produksi enzim laktase dalam tubuh tidak mencukupi atau bahkan berhenti sama sekali. Kondisi inilah yang secara medis dikenal sebagai intoleransi laktosa.
Dampak Laktosa pada Tubuh yang Sensitif
Bagi orang dengan intoleransi laktosa, gula susu yang tidak tercerna akan terus mengalir menuju usus besar. Di sana, laktosa akan berinteraksi dengan bakteri usus dan mengalami proses fermentasi. Proses inilah yang memicu berbagai gejala tidak nyaman dalam waktu 30 menit hingga dua jam setelah mengkonsumsi produk susu.
Beberapa dampak yang paling sering dirasakan meliputi:
Perut Kembung dan Begah: Gas yang dihasilkan dari fermentasi laktosa menyebabkan tekanan berlebih di area perut.