POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, pasta terutama spageti sering kali mendapatkan reputasi buruk dalam dunia diet. Banyak orang menganggapnya sebagai "bom karbohidrat" yang harus dihindari demi menjaga berat badan. Namun, riset dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menunjukkan sudut pandang yang berbeda: bukan pastanya yang menjadi masalah, melainkan jenis dan cara kita mengkonsumsinya.

Menempatkan spageti dalam pola makan seimbang sebenarnya sangat mungkin dilakukan, asalkan kita memahami prinsip kualitas karbohidrat. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai bagaimana spageti dapat mendukung kesehatan Anda jika dikelola dengan benar.

Kualitas Karbohidrat Adalah Kunci

Menurut para ahli di Harvard, kesehatan kita lebih dipengaruhi oleh jenis karbohidrat yang kita pilih dibandingkan jumlah totalnya. Spageti yang terbuat dari gandum utuh (whole-grain) memiliki profil nutrisi yang jauh lebih unggul dibandingkan pasta tepung putih biasa.

Gandum utuh mengandung tiga bagian biji: dedak, benih, dan endosperma. Proses penggilingan pada pasta putih menghilangkan dedak dan benih yang kaya akan serat, vitamin B, dan mineral. Dengan memilih spageti gandum utuh, Anda memberikan asupan serat yang membantu memperlambat penyerapan glukosa, sehingga mencegah lonjakan gula darah yang drastis.

Indeks Glikemik dan Rasa Kenyang Lebih Lama

Salah satu keunggulan spageti dibandingkan sumber karbohidrat olahan lainnya adalah struktur fisiknya. Pasta yang dimasak dengan tingkat kematangan al dente (masih agak kenyal) memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah.

Indeks glikemik (IG) adalah ukuran seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah. Makanan dengan IG rendah membuat Anda merasa kenyang lebih lama karena energi dilepaskan secara bertahap. Hal ini sangat bermanfaat bagi mereka yang sedang mengelola berat badan atau penderita diabetes tipe 2.

Mengubah Spageti Menjadi Hidangan Gizi Seimbang