POLA JABAR - Kota Bandung terus bersiap menyambut lonjakan wisatawan menjelang momen long weekend. Salah satu langkah strategis yang diambil Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Sosial (Dinsos) adalah dengan mengintensifkan penanganan tunawisma, gelandangan, dan pengemis. Langkah ini bertujuan untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, serta citra positif kota di mata publik.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa menyebutkan, secara umum kelompok tunawisma terbagi ke dalam tiga kategori utama, yakni gelandangan, pengemis, dan pemulung.
Berdasarkan data terbaru dari Dinsos, terdapat tren kenaikan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) pada tahun 2025:
Gelandangan: Meningkat menjadi 156 jiwa (dari 113 jiwa di tahun 2024). Sebanyak 129 jiwa sudah dijangkau oleh Unit Social Response (USR).
Pengemis: Mencapai 223 jiwa (naik dari 188 jiwa), dengan 184 jiwa telah ditangani.
Pemulung: Tercatat sebanyak 57 jiwa (naik dari 41 jiwa).
Mayoritas dari mereka bukan merupakan penduduk asli lokal. Data menunjukkan sebanyak 125 gelandangan berasal dari luar Kota Bandung, seperti Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat. Bahkan, ditemukan 10 orang yang berasal dari luar Pulau Jawa.
Keberadaan mereka terkonsentrasi di pusat-pusat keramaian yang menjadi jantung aktivitas kota.
“Sebaran mereka ada di sekitar 16 hingga hampir 20 titik rawan, terutama di kawasan strategis dan pusat aktivitas kota,” ujar Yorisa saat ditemui di Kantor Dinas Sosial Kota Bandung, Kamis, 15 Januari 2026.