POLA JABAR – Menghindari kebijakan berbasis asumsi, Wali Kota Bandung turun langsung melakukan monitoring lapangan di Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, pada Rabu, 14 Januari 2026. Peninjauan ini mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari infrastruktur dasar, sanitasi, pengelolaan sampah, hingga isu sosial warga.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan di kawasan Rumah Deret Tamansari RW 11 adalah menyikapi aspirasi warga terkait Masjid Al-Islam dan optimalisasi mesin incinerator di TPS setempat. Terkait isu sensitif mengenai rumah ibadah, Wali Kota Farhan menegaskan bahwa Pemerintah Kota mengedepankan prinsip keadilan tanpa memicu perpecahan.

“Tidak mungkin kita berani membongkar rumah ibadah tanpa kesepakatan. Ini bukan soal politik, tapi soal keadilan dan ketertiban. Masjid itu milik semua, bukan hanya warga rumah deret, tapi juga warga sekitar,” ujarnya.

Camat dan Lurah setempat telah diinstruksikan untuk melibatkan seluruh elemen, termasuk warga kawasan Baltos, Kementerian Agama, dan Dewan Masjid, guna memastikan kedua masjid yang ada dapat berfungsi secara harmonis.

Beralih ke masalah lingkungan, Wali Kota menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya di empat RW yang menggunakan TPS Rumah Deret. Rencana pembangunan fasilitas pendukung pengolahan sampah juga tengah disiapkan untuk menekan beban volume sampah.

Masalah serius ditemukan saat peninjauan di RW 15, di mana sistem pipa septik di permukiman padat belum memadai. Mayoritas hunian diketahui belum memiliki septic tank, yang berdampak pada pencemaran lingkungan.

“Bukan hanya saluran air kotor yang diperbaiki, tapi pembuatan septictank harus dilakukan untuk semuanya di sini. Camat dan lurah bantu mendata, jangan sampai ada warga yang terlewat. Semua harus sesuai fakta lapangan,” tegas Wali Kota.

Selain infrastruktur, dimensi kemanusiaan menjadi sorotan utama. Wali Kota menyempatkan diri berdialog dengan anak disabilitas dan anak putus sekolah di kawasan tersebut. Ia menginstruksikan jajaran dinas terkait untuk segera melakukan asesmen agar anak-anak tersebut mendapatkan akses pendidikan yang layak, baik di Sekolah Rakyat Cicendo maupun Balai Rehabilitasi Sosial Wiyataguna.

Melihat kondisi anak yang membutuhkan bantuan cepat, ia berujar: “Sudah, jangan menawar-nawar lagi. Kasihan anaknya, sudah telat sekolah. Kita carikan jalannya.”