POLA JABAR - Dalam hiruk-piruk tren superfood modern, sering kali kita melupakan bahan pangan lokal yang sederhana namun memiliki khasiat luar biasa. Salah satunya adalah kacang tanah. Meski secara botani termasuk dalam keluarga legum, profil nutrisi kacang tanah sangat mirip dengan kacang-kacangan pohon (tree nuts) yang mahal. 

Berbagai riset medis, termasuk ulasan dari Harvard Health Publishing, mulai menyoroti bagaimana konsumsi kacang tanah secara rutin dapat menjadi pelindung alami bagi kesehatan otak dan fungsi kognitif manusia.

Salah satu alasan utama mengapa kacang tanah sangat direkomendasikan untuk kesehatan saraf adalah kandungan niasin (vitamin B3) yang tinggi. Niasin berperan vital dalam perbaikan DNA dan pensinyalan sel saraf. 

Penelitian berskala besar menunjukkan bahwa individu yang mendapatkan asupan niasin cukup dari makanan memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit Alzheimer dan penurunan daya ingat terkait usia. 

Dalam satu porsi kacang tanah, terkandung persentase niasin yang cukup signifikan untuk memenuhi kebutuhan harian otak dalam menjaga plastisitas sinaptik.

Kacang tanah merupakan salah satu sumber alami resveratrol, senyawa polifenol yang juga ditemukan pada anggur merah. Resveratrol telah lama dikenal dalam dunia medis karena kemampuannya meningkatkan aliran darah ke otak.

Dengan sirkulasi darah yang lancar, oksigen dan nutrisi dapat tersalurkan dengan optimal ke seluruh jaringan saraf. Selain itu, resveratrol bertindak sebagai antioksidan kuat yang melawan stres oksidatif penyebab utama kerusakan sel-sel otak yang memicu demensia.

Otak manusia terdiri dari sekitar 60 persen lemak. Oleh karena itu, kualitas lemak yang kita konsumsi sangat mempengaruhi kinerja otak. Kacang tanah kaya akan lemak tak jenuh tunggal dan ganda (monounsaturated dan polyunsaturated fats).

Lemak sehat ini membantu menjaga fleksibilitas membran sel saraf, yang memungkinkan komunikasi antar-sel terjadi lebih cepat dan efisien. Mengonsumsi kacang tanah membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, yang secara tidak langsung melindungi pembuluh darah kecil di otak dari risiko stroke mikroskopis.