POLA JABAR – Selama beberapa dekade, susu sering kali ditempatkan dalam kotak sempit sebagai "minuman untuk pertumbuhan tulang." Namun, rangkaian studi terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition (AJCN) mengungkapkan bahwa peran susu dalam diet manusia jauh lebih kompleks dan krusial daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Para peneliti kini mulai melihat susu bukan hanya sebagai sumber tunggal nutrisi, melainkan sebagai "matriks makanan" yang bekerja secara sinergis dalam tubuh.
Salah satu temuan paling signifikan dalam literatur AJCN baru-baru ini adalah tantangan terhadap stigma lemak jenuh dalam produk susu.
Data menunjukkan bahwa lemak yang ditemukan secara alami dalam susu, keju, dan yogurt tidak memiliki kaitan langsung dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, jenis asam lemak tertentu dalam susu justru berhubungan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.
Penelitian ini menekankan bahwa struktur molekul dalam matriks susu dapat memengaruhi bagaimana lemak tersebut diserap dan diproses oleh hati, sehingga efeknya berbeda secara fundamental dengan lemak jenuh dari daging merah atau minyak olahan.
Susu mengandung dua jenis protein utama yakni kasein dan whey. Studi nutrisi modern menyoroti keunggulan protein ini dalam menjaga massa otot, terutama pada populasi lanjut usia. Ketersediaan hayati (bioavailability) asam amino dalam susu melampaui sebagian besar sumber protein nabati, menjadikannya standar emas dalam pemulihan jaringan dan regenerasi sel.
Selain itu, konsumsi produk susu fermentasi seperti yogurt dan kefir ditemukan memiliki dampak positif pada mikrobiota usus. Hal ini memperkuat hubungan antara kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh yang lebih tangguh.
Selain kalsium dan Vitamin D, AJCN menyoroti kandungan mikronutrisi lain seperti fosfor, kalium, dan Vitamin B12. Unsur-unsur ini bekerja secara kolektif untuk mendukung fungsi saraf dan tekanan darah yang sehat. Yang menarik, studi menunjukkan bahwa penyerapan nutrisi ini jauh lebih efisien ketika dikonsumsi melalui bentuk aslinya (susu) dibandingkan melalui suplemen sintetis.
Pesan utama dari perkembangan studi nutrisi ini adalah pentingnya keseimbangan. Meskipun susu adalah sumber nutrisi yang sangat padat, para ahli tetap menyarankan pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan kalori individu.***