POLA JABAR - Selama puluhan tahun, susu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan sehat masyarakat dunia. Ia dikenal sebagai sumber kalsium utama untuk tulang. Namun, ketika bicara soal kesehatan jantung, perdebatan sering kali muncul terkait kandungan lemak di dalamnya.
Merujuk pada pedoman yang dikeluarkan oleh American Heart Association (AHA), hubungan antara susu dan jantung sebenarnya sangat bergantung pada jenis susu yang dipilih dan bagaimana cara kita mengkonsumsinya dalam pola makan sehari-hari.
Peran Lemak Jenuh dalam Produk Susu
Salah satu perhatian utama para ahli jantung adalah kandungan lemak jenuh yang ditemukan dalam produk susu full cream (susu murni), keju, dan mentega. Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol "jahat" dalam darah. Kadar LDL yang tinggi merupakan faktor risiko utama terjadinya penyumbatan pembuluh darah atau aterosklerosis.
Oleh karena itu, AHA secara konsisten merekomendasikan orang dewasa untuk lebih memilih produk susu bebas lemak (fat-free) atau rendah lemak (low-fat 1%). Dengan memilih varian ini, Anda tetap mendapatkan nutrisi penting tanpa beban lemak jenuh yang dapat memberatkan kerja jantung.
Nutrisi Kunci untuk Tekanan Darah
Di balik kekhawatiran soal lemak, susu sebenarnya menyimpan "senjata rahasia" untuk kesehatan pembuluh darah, yaitu kalium, kalsium, dan magnesium. Ketiga mineral ini bekerja sinergis dalam membantu mengatur tekanan darah.
Kalium, khususnya, membantu tubuh membuang kelebihan natrium melalui urin dan mengurangi ketegangan pada dinding pembuluh darah. Inilah mengapa produk susu rendah lemak sering kali menjadi bagian penting dari diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), sebuah pola makan yang dirancang khusus oleh para ahli medis untuk memerangi hipertensi dan penyakit jantung.
Susu Fermentasi: Keuntungan Tambahan bagi Jantung?