POLA JABAR - Kacang mede atau yang secara botani berasal dari tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale) merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan paling berharga di pasar global. Meski sering disebut kacang, secara teknis mede adalah biji yang menggantung di bawah buah semu yang disebut apel mete.

Berdasarkan data dan panduan teknis dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), budidaya tanaman ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai siklus hidupnya yang unik. Berikut adalah tahapan mendetail mengenai bagaimana kacang mede ditanam hingga dipanen.

1. Persiapan Lahan dan Syarat Tumbuh

Tanaman jambu mete dikenal sebagai tanaman yang tangguh dan mampu tumbuh di lahan marginal yang kering. Namun, untuk hasil yang optimal, tanaman ini membutuhkan iklim tropis dengan suhu rata-rata 24 hingga 30 derajat Celcius.

Lahan yang akan ditanam harus memiliki sistem drainase yang baik karena jambu mete tidak menyukai tanah yang tergenang air. Persiapan dimulai dengan pembersihan lahan dari gulma dan pembuatan lubang tanam dengan jarak ideal sekitar 8 hingga 10 meter agar tajuk pohon memiliki ruang yang cukup untuk melebar.

2. Proses Penanaman: Memilih Bibit Unggul

Keberhasilan panen sangat ditentukan oleh kualitas bibit. FAO menyarankan penggunaan bibit hasil sambung pucuk (grafting) daripada sekadar menanam biji secara langsung. Teknik ini menjamin pohon akan memiliki karakteristik yang sama dengan induknya, lebih cepat berbuah, dan tahan terhadap serangan hama tertentu.

Penanaman biasanya dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini bertujuan agar bibit muda mendapatkan pasokan air yang konsisten untuk memperkuat sistem perakarannya sebelum menghadapi musim kemarau pertama.

3. Perawatan Tanaman: Masa Pertumbuhan