POLA JABAR – Menjelang pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI bergerak cepat melakukan pemetaan terhadap berbagai potensi kendala di Tanah Suci. Fokus utama pengawasan kali ini diarahkan pada fase krusial puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) guna menjamin kenyamanan serta keselamatan seluruh jemaah Indonesia.

Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengungkapkan bahwa Timwas telah merancang strategi pembagian tugas yang komprehensif setelah melakukan rapat koordinasi di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, pada Rabu (13/5/2026).

Mengingat besarnya kuota jemaah tahun ini, DPR RI membagi personel pengawas ke dalam beberapa sub-tim yang fokus pada bidang-bidang spesifik. Hal ini bertujuan agar setiap detail kesepakatan dengan Kementerian Haji dapat terverifikasi secara langsung di lapangan.

“Kita (Timwas Haji DPR RI) sudah melakukan persiapan. Jadi brainstorming apa yang poin-poin yang harus dilakukan dan pembagian tugas kerja ya. Karena saking banyaknya kita harus mengawasi mitra kita, Kementerian Haji, sebanyak 221.000 jemaah yang harus kita pastikan,” ujar Cucun.

Secara teknis, pemantauan akan mencakup standar fasilitas hotel, kualitas makanan dari penyedia katering, hingga efektivitas moda transportasi yang akan digunakan oleh jemaah selama di Mekkah dan Madinah.

“Jadi tadi dibagi ada yang di tim mengawasi akomodasi, hotel, segala macam, apa sudah sesuai dengan hasil Panja. Kemudian juga tim cek katering. Kemudian juga tim transportasi, mengenai bus shalawat, kemudian terminal-terminal yang digunakan, apakah ini sudah berjalan efektif,” katanya.

Cucun, yang juga politisi dari Fraksi PKB, memberikan catatan khusus mengenai kendala transportasi di terminal. Jemaah Indonesia seringkali harus berjuang ekstra saat harus berbagi akses bus dengan jemaah dari negara lain yang memiliki postur fisik berbeda.

“Karena kita itu kan yang dikhawatirkan dari tahun ke tahun, jemaah kita ini menyatu dengan yang negara-negara lain. Sehingga kalau jemaah haji Indonesia disatukan dengan yang dari Turki, kemudian dari wilayah-wilayah yang orang-orangnya lebih postur tubuhnya lebih besar, ini kasihan kadang-kadang mereka nunggu bus itu berjam-jam,” ungkapnya.

Selain transportasi, Timwas berkomitmen untuk mengawal persiapan di fase Armuzna, terutama terkait kejelasan skema Murur dan Tanazul yang ditujukan bagi jemaah lansia serta disabilitas.