POLA JABAR - Dalam peta gastronomi dunia, jarang sekali ditemukan bahan makanan yang memiliki fleksibilitas seluar biasa almond. Merujuk pada catatan sejarah dan perjalanan budaya yang sering diulas oleh BBC Travel, almond bukan sekadar kacang-kacangan biasa; ia adalah simbol kemakmuran, teknik memasak yang halus, dan jembatan rasa antara Timur dan Barat.

Akar Sejarah: Dari Jalur Sutra ke Meja Makan Bangsawan

Almond (Prunus dulcis) memulai perjalanannya dari wilayah Asia Tengah dan Levant. Melalui jalur perdagangan kuno, bahan ini merambah ke Mediterania, di mana iklim hangat Spanyol dan Italia menjadi rumah barunya.

Di masa lalu, almond dianggap sebagai barang mewah. Di Mesir Kuno, almond ditemukan di dalam makam raja-raja sebagai bekal perjalanan ke alam baka.

Sementara di Eropa abad pertengahan, susu almond menjadi alternatif utama saat masa puasa keagamaan ketika produk susu hewani dilarang. Kemampuannya untuk berubah bentuk dari tekstur renyah menjadi pasta yang lembut membuatnya sangat dicintai oleh para koki kerajaan.

Eksplorasi Rasa di Berbagai Benua

Kekuatan utama almond terletak pada profil rasanya yang nutty, sedikit manis, dan mampu menyerap aroma di sekitarnya. Berikut adalah bagaimana almond mendominasi berbagai gaya kuliner:

  • Eropa Selatan: Seni Manisan Tradisional Spanyol dan Italia adalah "ibu kota" almond di Eropa. Di Spanyol, kita mengenal Turrón, nougat khas yang terbuat dari campuran almond bakar dan madu. Di Italia, Marzipan dan kue Amaretti menunjukkan betapa almond adalah nyawa dari hidangan penutup klasik mereka.

    Timur Tengah: Tekstur dalam Masakan Gurih Berbeda dengan Barat yang dominan menggunakannya untuk kue, dapur Timur Tengah sering memasukkan irisan almond ke dalam pilaf nasi, tajine, atau sebagai hiasan pada hummus. Almond memberikan kontras tekstur yang elegan pada masakan yang kaya akan rempah.