POLA JABAR - Sektor persusuan bukan sekadar komoditas pangan, melainkan pilar krusial dalam ketahanan pangan global yang terus bertransformasi. Berdasarkan laporan prospek pertanian yang dirilis oleh OECD, industri ini sedang berada di persimpangan jalan antara lonjakan permintaan dari negara berkembang dan tuntutan keberlanjutan lingkungan yang semakin ketat di negara maju.
Evolusi ini menciptakan dinamika pasar yang kompleks, di mana efisiensi produksi kini beradu cepat dengan regulasi emisi karbon.
Pertumbuhan produksi susu dunia saat ini didorong secara masif oleh peningkatan produktivitas per ekor ternak, terutama di wilayah Asia Selatan. India dan Pakistan muncul sebagai pemain dominan yang diprediksi akan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan produksi global dalam satu dekade ke depan.
Di wilayah ini, susu bukan hanya sekadar produk industri, melainkan bagian integral dari ekonomi pedesaan yang menopang jutaan rumah tangga kecil. Berbeda dengan model peternakan intensif di Barat, ekspansi di wilayah Asia lebih banyak dipicu oleh penambahan jumlah populasi ternak dan perbaikan manajemen pakan tradisional.
Di sisi lain, produsen tradisional seperti Uni Eropa dan Selandia Baru menghadapi tantangan yang jauh berbeda. OECD mencatat bahwa kebijakan lingkungan yang mengincar pengurangan gas rumah kaca mulai membatasi ekspansi lahan dan jumlah ternak di wilayah tersebut.
Hal ini memaksa para produsen untuk beralih dari kuantitas menuju kualitas dan inovasi produk. Akibatnya, pangsa pasar ekspor global perlahan bergeser, di mana efisiensi teknologi menjadi kunci utama bagi negara-negara maju untuk tetap kompetitif di tengah keterbatasan ruang produksi.
Konsumsi produk susu juga mengalami pergeseran pola yang signifikan. Jika di negara-negara berpenghasilan tinggi konsumsi susu cair cenderung stagnan atau menurun karena popularitas alternatif nabati, permintaan akan produk olahan seperti keju dan mentega justru meningkat pesat di wilayah perkotaan negara berkembang.
Transformasi gaya hidup dan urbanisasi di Asia dan Afrika Utara telah mengubah preferensi konsumen terhadap produk susu olahan yang memiliki masa simpan lebih lama dan nilai gizi yang terkonsentrasi.
Tantangan terbesar yang membayangi industri ini adalah volatilitas harga input, seperti pakan dan energi, yang sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik. OECD menekankan bahwa ketahanan industri peternakan dunia di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan peternak dalam mengadopsi teknologi digital dan sistem pemuliaan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.