BANDUNG – Proyek normalisasi dan pengerukan sedimentasi Sungai Cipalasari di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, yang dikerjakan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat menuai sorotan tajam dari warga sekitar.
Warga menilai pekerjaan yang sedang berlangsung belum menyentuh akar permasalahan utama, yaitu endapan sedimen yang selama ini diduga menjadi penyebab utama pendangkalan sungai dan potensi banjir saat musim hujan.
Pantauan di lapangan, khususnya di sekitar Jembatan Sekegoong, Jalan Mengger, Kelurahan Pasawahan, menunjukkan bahwa aktivitas pekerja lebih banyak difokuskan pada pengangkutan sampah dan perapihan material di bantaran sungai.
Sementara itu, endapan lumpur tebal di dasar sungai dinilai masih belum tersentuh alat berat.
Jamidin (50), seorang warga yang tinggal di dekat lokasi proyek, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Menurutnya, masyarakat berharap proyek normalisasi benar-benar mengembalikan kapasitas tampung sungai melalui pengerukan sedimen, bukan sekadar membersihkan sampah di permukaan.
“Ini jelas bukan pengerukan sedimentasi sungai. Yang dikerjakan hanya memindahkan tanah di tepi sungai dan mengangkut sampah. Lumpur yang mengendap bertahun-tahun di dasar sungai justru tidak diangkat,” ujar Jamidin, Minggu (5/7/2026).
Jamidin membandingkan pekerjaan saat ini dengan kegiatan pengerukan sebelumnya yang dilakukan secara kolaboratif oleh unsur pentahelix di Dayeuhkolot.
Ia menilai, upaya sebelumnya lebih efektif karena mampu mengangkat sedimen dari dasar sungai menggunakan peralatan yang lebih memadai.
