POLA JABAR  – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa angka ketimpangan ekonomi atau rasio gini di Kota Bandung mengalami penurunan dari 0,44 menjadi 0,42. Meski trennya positif, Farhan menegaskan bahwa angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional dan menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah.

“Ini adalah tantangan nyata. Walaupun secara angka menurun, rasio gini kita masih jauh di atas standar nasional,” ujar Farhan saat memberikan keterangan di Balai Kota Bandung, Kamis (19/2/2026).

Farhan menjelaskan bahwa penurunan angka kemiskinan tidak secara otomatis menghapus ketimpangan. Pergerakan status ekonomi warga dari desil 1–5 menuju desil 6 memang menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan, namun di sisi lain memunculkan risiko baru terkait akses bantuan sosial yang mungkin tidak lagi mereka terima.

Selain masalah ekonomi, isu kesehatan lingkungan menjadi sorotan utama Pemkot Bandung. Data dari pemantauan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dan Laci RW menunjukkan fakta memprihatinkan: sebanyak 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank.

Kondisi ini menyebabkan limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai, yang kemudian memicu tingginya angka kasus diare. Penyakit ini merupakan salah satu faktor penyumbang utama masalah stunting pada anak-anak di perkotaan.

Tak hanya itu, Farhan juga mengaitkan kondisi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dengan kesehatan paru masyarakat. Sirkulasi udara yang buruk serta minimnya pencahayaan alami di pemukiman padat turut memicu tingginya kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Bandung.

Wali Kota mengakui bahwa penyediaan septic tank di pemukiman padat penduduk tidaklah sederhana. Banyak rumah di gang sempit memiliki toilet di bagian belakang yang langsung menghadap sungai. Untuk memindahkan saluran ke septic tank komunal di depan rumah, warga membutuhkan biaya sekitar Rp5 juta, yang dinilai sangat memberatkan.

Sebagai solusi konkret, Pemkot Bandung mengembangkan inovasi Biotank. Inovasi ini memiliki keunggulan dibandingkan sistem lama: