POLA JABAR - Bagi sebagian besar masyarakat, mencuci buah dengan kulit tebal seperti melon sering kali dianggap sebagai langkah yang sia-sia. Logikanya sederhana: kulitnya toh akan dibuang dan tidak dimakan.
Namun, menurut pedoman keamanan pangan dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, kebiasaan melewatkan pencucian kulit melon bisa menjadi pemicu keracunan makanan yang serius.
Lantas, mengapa buah yang memiliki proteksi kulit keras ini justru wajib dibersihkan secara ekstra? Berikut adalah penjelasan detail mengenai risiko dan cara penanganan yang benar menurut standar kesehatan internasional.
1. Ancaman Bakteri di Balik Kulit yang Kasar
Melon, terutama jenis cantaloupe atau melon lokal yang memiliki tekstur kulit berjaring (netted), memiliki celah-celah kecil yang sangat ideal bagi bakteri untuk bersembunyi. Tanah, air irigasi, dan sisa pupuk saat proses penanaman sering kali membawa patogen berbahaya seperti Salmonella, Listeria, atau E. coli.
FDA menekankan bahwa meskipun kita tidak memakan kulitnya, bakteri tersebut tetap mengintai. Saat pisau menembus kulit yang kotor untuk membelah daging buah, mata pisau akan membawa bakteri dari permukaan luar langsung ke dalam daging buah yang siap dikonsumsi. Inilah yang disebut dengan kontaminasi silang.
2. Risiko Kontaminasi Silang (Cross-Contamination)
Bayangkan Anda memotong melon yang tampak bersih namun sebenarnya mengandung spora bakteri di permukaannya. Begitu pisau melewati kulit, bakteri akan menempel pada bilah pisau dan ikut terdorong masuk ke bagian dalam melon yang berair dan manis.
Daging melon yang kaya nutrisi dan memiliki kelembapan tinggi merupakan media pertumbuhan yang sangat sempurna bagi bakteri. Jika melon tersebut tidak segera dimakan dan dibiarkan di suhu ruang, bakteri yang terbawa tadi akan berkembang biak dengan sangat cepat, meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan bagi siapa pun yang memakannya.